Kemajemukan sebagai Sumber Pembelajaran: Pengalaman Pendampingan Belajar Taman Bermaian dan TK Sinar Pelangi

Posted: 6 Agustus 2010 in Artikel

Wawancara Kak Iin Mendah

Berteman untuk saling belajar adalah ruh yang sangat kuat mewarnai Kelompok Muda yang dikemudian hari membentuk Yayasan Sawo Kecik pada tahun 1999. Kiprah Kelompok Muda ini dari tahun-ke tahun, dari Pacitan, Ponorogo, hingga Pacitan, hal-hal yang diusung adalah sesuatu yang tidak muluk-muluk tetapi sangat mendasar dalam menumbuhkan harkat kepribadian yang merdeka. Kiprah ini tidak lain berupa menjadikan pribadi yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar dengan memanfaatkan potensi keragaman yang ada ;  sesuatu yang telah diasingkan oleh politik pendidikan terutama puluhan tahun di bawah Orde Baru.

Mendudukan Kemajemukan sebagai Sumber Pembelajaran adalah hal yang sangat menarik, terutama ketika kekuatan bersama ini melahirkan lembaga pendidikan anak-anak Taman Bermain dan Taman Kanak-Kanak Sinar Pelangi yang mempunyai keunggulan karena mengedepankan penghargaan pada kemajemukan.

Newsletter Interfidei akan menampilkan rangkuman hasil wawancara dengan Kak Iin Mendah, Kepala Sekolah Taman Bermain dan TK Sinar Pelangi yang memaparkan bagaimana Kemajemukan selama bertahun-tahun telah menjadi Sumber Pembelajaran dalam ikatan pertemanan sesama orang dewasa maupun dengan teman-teman kecil mereka.

Pengalaman Mengelola Perbedaan sebagai Kekuatan

Kelompok muda yang tergabung dalam Yayasan Sawo Kecik mempunyai latar belakang yang sangat beragam. Minat dan kepedulian yang sangat kuat pada pendidikan anak-anak tidak hanya menyatukan mereka tetapi menyemangati mereka untuk saling belajar. Kelebihan salah satu teman dibagikan pada teman-teman yang lain. Pelatihan tentang kepemimpinan, pembuatan proposal maupun hal ihwal tumbuh kembang anak dilakukan bersama dengan memanfaatkan sumber daya yang ada, proses berkembang bersama bisa dilakukan dengan biaya murah, meriah dan sedapat mungkin berkelanjutan.

Semangat ini pula yang dipertahankan ketika menyelenggarakan lembaga pendidikan Taman bermain dan Taman Kanak-Kanak. Di awal kegiatan, para pendamping membekali diri dengan saling berbagi pengalaman. Di tengah proses pendampingan mereka tidak menjadikan teman kecil mereka semata-mata sebagai manusia-manusia berukuran mini dan lemah yang hanya butuh didampingi, tetapi menurut pengakuan Iin, teman-teman kecil ini dipandang sebagai sumber belajar. Sikap, ekspresi dan seluruh perkembangan ditemukan didiskusikan dan direfleksikan bersama untuk mendapatkan pendekatan pendampingan yang paling tepat untuk masing-masing anak yang tidak mungkin diseragamkan.

Dalam proses belajar mengajar, penghargaan terhadap kemajemukan anak termuat dalam dasar pemikiran bahwa “setiap anak unik”, artinya harus diakui dan diakomodir bahwa ada perbedaan yang sangat jelas pada tiap anak yang tidak bisa diabaikan bila sebuah upaya pendidikan ingin menempatkan tumbuh kembang anak secara maksimal dan anak tidak kehilangan kekhasannya dari anak-anak yang lain.Terjemahan lain dari prinsip ini antara lain adalah pada dasarnya tidak ada anak yang bodoh.Yang ada adalah perbedaan kebiasaan dalam memahami sesuatu, perbedaan bakat dan minat. Demikian halnya menurut Iin, tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah anak yang sangat sangat aktif, anak yang mempunyai cara khusus dalam berkomunikasi dan anak yang belum berhasil mengendalikan diri. Memberikan cap pada anak-anak yang mempunyai ekpresi atau kemampuan khusus sebagai nakal atau bodoh secara psikologis sangat mengngganggu dalam proses tumbuh kembang anak.

Demi menghargai keragaman ini, TK Sinar Pelangi tidak ada seragam sekolah.  Bagi para pendamping, ada yang lebih penting dari seragam, yaitu keaslian dalam berekspresi dan menampilkan diri. Pada situasi yang apa adanya ini, anak-anak bisa belajar menerima orang lain apa adanya. Tidak memakai seragam sekolah menjadi sangat signifikan karena dalam prakteknya dalam kebijakan tentang pakaian seragam, disertai juga penyeragaman dalam banyak hal, penyeragaman cara berfikir, penyeragaman bentuk kreatifitas bahkan penyeragaman dalam ungkapan-ungkapan pergaulan. Penyeragaman ini secara ekstrim bisa jadi menjadi upaya penghilangan proses pembentukan jati diri generasi muda.

Pada beberapa Taman Bermain maupun TK yang mengusung nilai-nilai multikulturalisme, acapkali masih ragu untuk menampilkan dan memperkenalkan perbedaan ekspresi keagamaan pada anak-anak. Di Taman Bermain dan TK Sinar Pelangi perbedaan ekspresi keagamaan ditampilkan dan diperkenalkan secara wajar. Misalnya setelah berdoa bersama, anak-anak berdoa menurut tradisi agama masing-masing, kadang dibantu juga oleh Kakak Pendamping.

Informasi tentang bermacam tema tentang kemajemukan, termasuk kemajemukan agama sangat baik dikenalkan sejak usia dini. Dengan mengenal sejak dini, maka sejak dini pula mereka mendapat pengetahuan dan latihan untuk menghargai dan menghormati orang-orang yang berbeda dalam belajar membangun relasi dengan sesama.

Tantangan Penyadaran Masyarakat

Selama banyak waktu dalam perkembangkan bangsa Indonesia, situasi kemajemukan kurang diapresiasi sebagai potensi bangsa yang harus dipelajari agar memberi keuntungan. Memang dalam retorika politik para penguasa hal ini sering disebut sebut, tetapi dalam praktek minim sekali upaya pembelajaran mengelola perbedaan dan menjadikan kemajemukan sebagai kekuatan. Hingga saat ini sikap dan mental masyarakat pun lebih merasa nyaman dengan penyeragaman dari pada menerima apa adanya kemajemukan dalam masyarakat.

Kak Iin menuturkan, upaya yang dilakuakn oleh Taman Bermaian dan TK Sinar Pelangi adalah sesuatu yang masih dianggap melawan arus. Namun upaya-upaya ini sangat penting dalam pembentukan kepribadian generasi muda dan masa depan bangsa, sehingga dengan segala keterbatasan yang ada Sinar Pelangi akan melanjutkan apa yang telah dirintisnya. Dukungan moral dan berjejaring dengan kelompok-kelompok masyarakat yang mempunyai cita-cita sama kiranya penting dilakukan agar bisa menggalang kekuatan untuk penyegaran dunia pendidikan anak-anak. (LT)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s