Diskusi Bulanan Juni: “Evaluasi Pendidikan Pendidikan di Indonesia”

Posted: 9 Agustus 2010 in Kegiatan FKGA

Diskusi bulanan FKGA dilaksanakan pada hari Rabu, 23 Juni 2010 di FKIP – IPPAK Sanata Dharma (Jl. Ahmad Jazuli No. 2). Tema yang diangkat dalam diskusi kali ini adalah Evaluasi Paradigma Pendidikan di Indonesia, dengan menghadirkan pembicara Agus Nuryatno, S. Ag., MA., Ph.D (Dosen Fak. Tarbiyah UIN Sunan Kalijaga dan penulis buku Pendidikan Mazhab Kritis).

Tema ini diangkat terkait dengan diskusi pada bulan sebelumnya (Mei), yaitu persoalan administrasi pendidikan. Dalam diskusi ketika itu, berkembang wacana bahwa administrasi pendidikan yang diterapkan di Indonesia dinilai sangat memberatkan dan menghabiskan sebagian besar perhatian para guru. Akibatnya, proses pengajaran di kelas terbengkalai. Persoalan ini kemudian memunculkan satu pertanyaan mendasar, apakah kekeliruan dalam membuat kebijakan administrasi pendidikan ini didasarkan pada kesalahan paradigma/landasan pemikiran pendidikan yang dikembangkan di Indonesia. Kegelisahan ini kemudian dijadikan sebagai topik diskusi dengan tujuan untuk melihat dan mengevaluasi kembali paradigma pendidikan yang dikembangkan di Indonesia.

Pak Agus, selaku nara sumber dalam pertemuan tersebut, menyoroti adanya upaya korporatisasi dalam dunia pendidikan Indonesia. Lembaga pendidikan tak ubahnya seperti sebuah perusahaan. Ini dapat dilihat dalam beberapa hal, pertama, UU BHP yang sekarang sudah dihapus oleh MK. Melihat isinya, ada banyak istilah ekonomi yang masuk di dalamnya. Efesiensi, produktivitas, pailit, profit dan lain-lain. Kedua, Perpu No. 77/2007 tentang daftar bidang usaha yang tertutup dan terbuka serta penanaman modal. Pendidikan termasuk sektor bidang usaha terbuka untuk penanaman modal asing dengan kepemilikan modal sekitar 65 %. Ketiga, fenomena kastanisasi dan diskriminasi pendidikan, seperti mulainya bermunculan Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) dan lain-lain. Lebih lanjut, Pak Agus menegaskan, sekolah dengan kualitas bagus selalu identik dengan biaya mahal dan kita bisa menebak kelompok masyarakat yang bisa mendapatkan segala kualitas ini. Sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan kita saat ini baru sebatas kekuatan reproduktif, belum kekuatan produktif. Artinya, pendidikan kita hanya menjadi media reproduksi struktur sosial lama bukan media mobilitas yang menciptakan struktur sosial baru.

Ideologi perusahaan didasarkan pada kompetisi dan hanya melahirkan dua oposisi biner, pemenang dan pecundang. Ini sangat jelas terlihat dalam dunia pendidikan kita. Yang selalu dihargai adalah anak-anak cerdas, berprestasi dan mampu. Mereka disuruh berkompetisi satu sama lain. Jika ini menjadi dasar pendidikan kita, maka akan ada ribuan anak-anak yang tidak akan dapat penghargaan selama hidupnya. Padahal pendidikan kita seharusnya tidak melakukan diskriminasi. Bila melihat semangat Pancasila, nilai yang ditanamkan justru kooperatif. Tidak ada yang lebih baik dari yang lain, yang ada hanyalah kerjasama dan kebersamaan. Anak-anak yang pintar akan membantu anak-anak yang kurang, sehingga yang mendapat penghargaan adalah semua anak.

Selain gejala korporotisasi dunia pendidikan, fenome lain yang ditemui dalam dunia pendidikan Indonesia adalah pragmatisme pendidikan. Saat ini, tugas utama pendidikan adalah bagaimana seseorang itu memiliki kemampuan teknis dalam dunia industri. Ilmu yang diberikan lebih bersifat parktis dan mudah diserap. Pendidikan tak lebih hanya bersifat adaptif dan pasif terhadap kehidupan. Mengutip pendapat Paulo Freire, mereka hanya live in the world, bukan live with the world. Live with the world artinya seseorang itu hidup di dunia dengan ikut berproses dan menjadi subjek. Terlibat dalam proses kreasi dan rekreasi sejarah. Sedangkan live in the world, artinya hidup di dunia baru pada tingkatan survival. Yang penting adalah hidup, bisa makan dan minum. Semua fasilitas diberikan, tapi tidak menyentuh akar persoalan dan memberikan perubahan secara substantif.

Pembicaraan kemudian mengerucut pada pendidikan agama. Sebagai sebuah pendidikan nilai, pendidikan agama memiliki peran besar dalam menghadapi korporatisasi pendidikan. Tapi yang terjadi kemudian adalah pendidikan agama hanya sebatas pengetahuan bukan pada pemahaman terhadap nilai-nilai agama. Terlebih bila dikaitkan dalam wacana pluralisme. Pendidikan agama belum memberikan perspektif pluralis dan multikulturalis bagi peserta didik. Berharap pada kreativitas guru, namun yang terjadi berikutnya adalah guru justru dituntut dengan persoalan administratif yang melelahkan. Terkait dengan hal ini, Romo Suhardiyanto mengungkapkan bahwa negara sangat menghambat proses pendidikan yang lebih progresif. Romo menceritakan pengalaman Keuskupan Semarang, di mana semua pelajaran agama tingkat SMP dan SMA diganti dengan pendidikan relijiusitas (pendidikan agama Katolik hanya khusus bagi pelajar Katolik). Di sini, murid berbagai agama saling sharing pengalamannya berdasarkan agama masing-masing. Kebijakan ini ternyata mendapat teguran dari Bimas Depag. Mereka menilai, bahwa yang diajarkan seharusnya adalah pendidikan agama Katolik.

Berbicara tentang sistem juga, Pak Syaifuddin, dosen UII yang memiliki concern dengan dunia pendidikan, mengungkapkan kekhawatirannya dengan sistem Ujian Nasional. UN menjadi standar keberhasilan sekolah. Sehingga dari 6 semester proses pendidikan, selama 1 semester hanya dikhususkan untuk persiapan UN. Sehingga yang terjadi saat ini adalah persaingan antar sekolah dan yang menjadi korbannya tentu saja peserta didik. Saudara Wahyudin dari KODAMA juga menyepakati hal ini. Ia menilai UN hanya mendorong siswa untuk menghapal. Selain itu, jika kita mencermati sertifikasi guru, ternyata sebagian besar uang yang diterima bukan untuk peningkatan kapasitas para guru, melainkan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Berhadapan dengan sistem memang bukan hal yang mudah. Sistem selalu berkaitan dengan kekuasaan dan orang lain. Tidak bisa diselesaikan secara instan, melainkan perlu ada dialog intensif dengan pengambil kebijakan dan segala upaya dari berbagai jalur perlu dilakukan. Pak Syaifuddin memberi perumpamaan dengan kapal kecil yang berada di tengah laut luas. Membentur air laut hanya akan menenggalamkan kapal. Yang perlu dilakukan adalah, memanfaatkan angin dan ombak untuk sampai ke pulau tujuan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s