Diskusi Bulanan Mei: “Administrasi Pendidikan: Hambatan atau Penunjang Keberhasilan Pendidikan di Indonesia”

Posted: 9 Agustus 2010 in Kegiatan FKGA

Fenomena yang sering ditemui di kalangan pendidik dewasa ini adalah sistem administrasi yang memberatkan. Tak jarang sistem ini justru melalaikan pendidik akan proses pengajaran dan pendidikan di kelas. Sehingga ada yang mengatakan, guru yang memenuhi semua tuntutan administrasi, proses pengajarannya akan terbengkalai. Dan begitu pula sebaliknya, guru yang bagus dalam proses pengajaran di kelas, tuntutan administrasinya justru tidak berjalan dengan baik.

Fenomena ini yang kemudian didiskusikan bersama-sama oleh Forum Komunikasi Guru Agama dalam satu pertemuan yang dilaksanakan pada hari Kamis, 20 Mei 2010 di SMP N 2 dengan tema “Administrasi Pendidikan: Hambatan atau Penunjang Keberhasilan Pendidikan di Indonesia”. Dalam pertemuan ini, masing-masing peserta berbagi pengetahuan dan pengalamannya tentang tema yang diangkat.

Bapak Rustiaji, pengajar Pondok Pesantren Pandanaran, berpendapat bahwa administrasi sangat penting dalam proses pendidikan. Ia merupakan panduan yang membantu proses pengajaran. Bapak Haerul Badri, guru MAN 1, juga berpendapat yang sama. Namun, ia sendiri merasakan bahwa ada banyak poin-poin/item-item yang harus dipenuhi. Paling tidak, ada sekitar 27 macam item yang harus dipenuhi dan dinilai sangat memberatkan. Ibu Jajuk, guru SMK Bopkri 1, juga merasa terengah-engah mengikuti semua tuntutan administrasi. Guru kehabisan waktu dan tenaga untuk mengajar, karena habis digunakan untuk memenuhi administrasi. Bapak Tegus, guru SMP N 2, berpendapat beda. Ia menilai, meskipun memberatkan, namun guru dibantu oleh banyak hal untuk memenuhi semua kewajiban ini. Salah satunya oleh teknologi komputer. Para guru perlu mensiasatinya dan focus utama tetap pada proses pengajaran di kelas.

Di sisi lain, belajar pada pengalaman guru lain yang tergabung di FKGA, ada guru yang tidak peduli dengan administrasi pendidikan. Ia lebih mengembangkan kurikulum sendiri yang dinilai lebih progresif dan memerdekakan. Akibatnya, ia mendapat masalah besar dengan otoritas lembaga pendidikan. Namun ada juga guru yang justru memenuhi semua tuntutan administrasi, namun dalam proses pengajaran, ia juga melakukan kreativitas sendiri. Akibatnya ada beban ganda yang harus dijalani.

Persoalan ini problematik, bila dikaitkan bahwa administrasi pendidikan menjadi penentu hidup matinya sebuah lembaga pendidikan. Sehingga Romo Suhardiayanto mengatakan-mengutip pendapat Djohar MS-bahwa dunia pendidikan mengalami penjajahan administratif. Pemerintah terlalu banyak mengatur. Ia bukan lagi menjadi proses memerdekaan dan memanusiakan manusia, tapi justru menjadi lembaga pengabdi pemerintah.

Uniknya beban ini tidak dirasakan oleh tingkat pendidikan perguruan tinggi. Administrasi dinilai sangat sederhana, yaitu cukup dengan time schedule, berbeda dengan sistem administrasi pada tingkat pendidikan SD, SLTP dan SLTA. Begitu juga halnya dengan pendidikan non formal dimana administrasi bukan menjadi panduan utama.

Persoalan ini tidak tuntas didiskusikan, karena ada satu elemen penting yang perlu dilibatkan yaitu para penentu kebijakan. Sehingga ke depan, para peserta diskusi mengusulkan, adanya satu forum yang mempertemukan para guru dengan para pembuat kebijakan. Karena peserta diskusi menilai, bahwa sebuah kebijakan yang dihasilkan sangat penting untuk melibatkan peran para guru sebagai orang yang terjun langsung dalam dunia pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s