Diskusi Bulanan April: “Pendidikan Agama di-UNkan: Apakah Menjawab Tantangan?”

Posted: 9 Agustus 2010 in Kegiatan FKGA

Diskusi bulanan Forum Komunikasi Guru-Guru Agama dilaksanakan pada hari Jumat, 23 April 2010, bertempat di Perpustakaan Arif Rahman Hakim (Jl. Atmosukarto 15). Tema yang diangkat adalah “Pendidikan Agama di-UNkan: Apakah Menjawab Tantangan?” dengan pembicara Bapak Prof. Dr. Djohar MS, yaitu mantan Rektor UNY dan juga Rektor UST Taman Siswa. Pertemuan ini dihadiri oleh 15 orang anggota Forum Komunikasi Guru-Guru Agama.

Dalam pembicaraan awal, Pak Djohar menegaskan bahwa semua agama memiliki common ground yang sama, yaitu berpihak kepada nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan. Tapi bila melihat pada praktek di dunia pendidikan, agama lebih diajarkan sebagai sebuah disiplin ilmu agama, bukan sebagai sebuah pendidikan agama. Dalam pendidikan agama Islam umpamanya, peserta didik lebih banyak dituntut untuk menghapal ayat-ayat al-Qur’an. Budaya yang lebih menekankan pada membaca teks (tulisan) mewabah dalam dunia pendidikan Indonesia (text book dan tekstual). Padahal pendidikan agama idealnya lebih menekankan pada tingkah laku.

UN sebagai evaluasi akhir dari proses panjang sebuah pendidikan hanyalah sesuatu yang tertuang di atas kertas. Evaluasi yang sebenarnya justru terletak pada keseharian peserta didik, atau yang dikenal dengan evaluasi otentik, yaitu evaluasi yang berbasis kelas dan di saat proses pendidikan itu berlangsung. Evaluasi ini menghasilkan portofolio perkembangan anak dan menekankan pada proses. Evaluasi dalam bentuk UN hanya berorientasi pada produk, dimana 3 hari ujian digunakan untuk mengukur proses pendidikan selama 3 atau 6 tahun. Menurut Pak Djohar, UN ini sangat lemah dan salah baik secara teknis maupun konsep. Bahkan pendidikan Indonesia secara keseluruhan, menurut hemat beliau, juga salah konsep. Tidak memiliki filosofi, bersifat pragmatis, apa adanya dan yang diutamakan adalah uang anggarannya.

Pak Sartana, salah satu peserta diskusi menanggapi bahwa pendidikan agama ketika di-UN merupakan pembunuhan terhadap peserta didik. Evaluasi pada dasarnya terdiri dari 3 tahap yang dijalankan secara berbarengan, yaitu pengetahuan, sensor motorik dan afeksi. Adapun model yang digunakan adalah dialog. Romo Har, peserta yang lainnya, juga membenarkan hal ini. Bahkan beliau mengatakan, jangankan untuk pendidikan agama, pelaksanaan UN untuk seluruh mata pelajaran adalah suatu kesalahan. Karena UN merupakan bentuk penyeragaman pengetahuan bagi seluruh sekolah di semua pelosok negeri. Selain itu, Romo Har mempertanyakan paradigma yang digunakan oleh para pengambil kebijakan dalam memutuskan pelaksanaan UN ini. Apakah untuk kepentingan peningkatan nilai kemanusiaan atau justru untuk uang (proyek)?

Kemudian Ibu Sutisyah menjelaskan bahwa ketetapan di-UNkan pendidikan agama sudah diberlakukan untuk pendidikan agama Islam. Pemerintah Pusat dalam hal ini hanya memberikan kisi-kisi/kerangka ujian, dan pembuatan soalnya diserahkan ke sekolah. Sebagai seorang guru agama, Ibu Sutisyah tidak menekankan pada nilai tapi lebih kepada sikap peserta didik. Menurutnya, orang beriman sudah pasti orang yang beragama, tapi orang yang beragama belum tentu orang yang beriman.

Adapun Ibu Anis Farikhatin menceritakan bahwa dua bulan yang lalu (sebulan menjelang UAN), para guru agama Pendidikan Agama Islam (MGMP) dikumpulkan untuk sosialisasi kebijakan tentang di UNkannya pendidikan agama Islam. Perdebatan cukup hangat di kalangan MGMP sehingga Depag Kota mengambil sikap bahwa para guru Pendidikan Agama Islam belum siap untuk melaksanakan UN. Tapi sayangnya kisi-kisi ujian tetap dikirimkan oleh Pusat. Ibu Sayyidah kemudian menjelaskan tentang kesulitan yang dihadapi oleh sekolah Madsarah Tsanawiyah, yaitu ada beban yang bertambah bagi peserta didik. Di samping mempelajari mata pelajaran di sekolah, mereka harus mempelajari buku-buku agama yang digunakan oleh pelajar umum.

Pak Teguh, guru agama SMP N 2 melihat bahwa selain sisi negatif di-UNkannya Pendidikan Agama, kemungkinan ada juga sisi positif. Seperti perhatian murid terhadap pendidikan agama yang selama ini selalu menjadi mata pelajaran yang terpinggirkan menjadi meningkat. Bahkan Jamaluddin mempertanyakan apakah ketika ditolak kebijakan pendidikan agama diUNkan, membuktikan ketidaksiapan guru agama dalam mengajarkan pendidikan agama. Pertanyaan ini dijawab oleh Pak Teguh dan Bu Anis, bahwa proses evaluasi pendidikan dengan hanya mengandalkan UN adalah sebuah kenaifan. Pak Purwono kemudian melihat lebih jauh, bahwa kita sebenarnya belum mempunyai konsep evaluasi pendidikan agama yang tepat.

Diskusi berlangsung dengan hangat dan berakhir pada pukul 17.30 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s