Membangun Wawasan Bhineka Tunggal Ika dengan Nilai-Nilai Keagamaan

Posted: 10 Agustus 2010 in Artikel

Oleh: Waryono Abdul Ghafur (Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga)

Dipresentasikan pada tanggal 4 Agustus 2009

Lokakarya Pendidikan Agama “Membangun Wawasan BTI Melalui Penanaman Nilai-nilai Agama”

Realitas Empirik Indonesia

Sejak awal didirikan/merdeka, Indonesia sudah  terdiri dari multiras, etnik, suku, agama, dan kepercayaan yang penduduknya tersebar di kurang lebih pada 17.000 pulau. Itulah Bhineka Tunggal Ika (unity in diversity/ E Pluribus Unum).

Semuanya diakui dan menjadi bagian tak terpisahkan dari Indonesia, meski kadang tak cukup mendapat perlindungan

Dari realitas itu, maka:

  • Sejak awal pula, negara-bangsa ini tidak pernah dimaksudkan hanya untuk warga negara-bangsa dengan agama/kepercayaan tertentu dan etnis tertentu juga.
  • Ini tentu saja berbeda misalnya dengan Pakistan yang sejak awal didirikan adalah sebuah negara bagi umat Islam sbg hasil dari penerapan teori dua bangsa (two-nation theory) yang digagas oleh Ali Jinnah.
  • Dengan demikian tidak Bhineka Tunggal Ika.
  • Meskipun demikian,  tidak ada realitas yang benar-benar tunggal.

BTI: Kehendak Siapa?

  • Bukan saja kehendak sejarah dan sosial, tapi merupakan kehendak Tuhan. Dalam al-Qur’an, Allah berfirman: “Wahai manusia! Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…(QS. al-Hujurat [49]: 13)
  • Pada ayat yang, Allah juga berfirman: Dan sekiranya Allah menghendaki, niscaya Dia jadikan mereka satu umat,…(QS. asy-Syura [42]: 8).
  • Maka, BTI adalah realitas yang tidak bisa ditolak atau dinegasikan. Ia harus diterima dan disikapi secara bijak, dimulai dengan proses saling mengenali (lita’a>rafu>) bukan menjauhi, menghindari dan apalagi memusuhi atau berusaha menyeragamkan atau menghilangkan heterogenitas.

Karena itu, dalam rumusan tujuan NKRI ditegaskan bahwa Tujuan didirikannya Indonesia ini adalah:

  • Melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia (dengan keanekaragamannya).
  • Memajukan kesejahteraan umum
  • Mencerdaskan kehidupan bangsa
  • Ikut serta melaksanakan ketertiban dunia

Lalu bagaimana aturan mainnya?

  • Perlu berangkat dari asumsi yang benar mengenai anak manusia.
  • Apa saja asumsinya yang dihidupkan?
  1. Selalu positif
  2. Memberi lingkungan yang mendukung tersemainkannya nilai-nilai positif
  3. Mendukung

Asumsi pertama

Nilai-nilai universal mengajarkan untuk menghargai orang lain dan bahwa tiap manusia memiliki harga diri.  Belajar menikmati nilai-nilai tersebut menciptakan kesejahteraan bagi tiap individu dan masyarakat luas

Asumsi kedua

Tiap anak-anak peduli akan nilai-nilai dan memiliki kapasitas untuk berkarya dan belajar secara positif bila disediakan kesempatan

Asumsi Ketiga

Anak-anak akan tumbuh berkembang dalam suasana bermuatan nilai di lingkungan positif dan aman yang saling menghargai dan memperhatikan;

dalam lingkungan seperti itu anak-anak dipandang mampu belajar membuat pilihan-pilihan sosial

Ingat Tujuan Agama (Maqashidus Syari’ah)

  • Memelihara/menjaga nyawa (hifdzun nafs)
  • Memelihara/menjaga akal (hifdzul ‘aql)
  • Memelihara/menjaga kelangsungan generasi (hifdzun nasl)
  • Memelihara/menjaga kehormatan (hifdzul ‘ird)
  • Menjaga/memelihara harta (hifdzul mal)
  • Menjaga/memelihara lingkungan (hifdzul bi’ah)
  • Menjaga agama (hifdzud din)

Dalam bahasa yang lain, menurut az-Zarqani (penulis Mana>hilul ‘Irfa>n),

Tujuan/cita-cita agama seperti terdapat dalam al-Qur’an adalah:

  1. Islahul ‘aqa’idi
  2. Islahul ‘ibadati
  3. Islahul akhlaqi
  4. Islahul Ijtima’i (perbaikan segi kemasyarakatan)
  5. Islahus Siyasati aw hukmid dauli
  6. Islahul Mali (perbaikan segi ekonomi)
  7. Islahun Nisa’i (perbaikan kedududkan perempuan)
  8. Islahul Harbi (perbaikan mengenai peperangan)
  9. Muharabatul Istirqaqi (memerangi perbudakan)
  10. Tahrirul Uquli wal Afkari (memerdekaan akal dan pikiran)

Untuk terwujudnya tujuan tersebut, maka Islam mengajarkan Prinsip Relasi Sosial

Dasar Pijakan:

  • Manusia adalah makhluk yang termulia (QS.al-Isra’ [17]: 70)
  • Manusia tercipta dengan ahsani taqwi<m (QS. at-Tin [95]: 4)
  • Manusia lahir dalam keadaan fithri (yu<ladu ‘alal fitrati) yang dalam perkembangannya dipengaruhi oleh faktor lingkungan: Hadis
  • Manusia sebagai satu kesatuan (nafsiw wa>hidah): QS. an-Nisa’ [4]: 1
  • Manusia tercipta dan memiliki asal yang sama (min tura>b)
  • Manusia sebagai saudara (ukhuwah insa>niyah/basyariyah)
  • Manusia dalah makhluk pedagogis/educandum yang dapat dididik dan mendidik (QS. ar-Rum [30]: 30)
  • Manusia sebagai hamba Allah (QS. adz-Dzariat [51]: 56 dan khalifah-Nya (Qs. al-An’am [6]: 165)
  • Manusia itu setara (musawa), kecuali karena kualitas taqwa/prestasinya (QS. al-Hujurat [49]: 13
  • Semua manusia menerima perjanjian primordial (QS. al-A’raf [7]: 172)
  • Manusia makhluk interdepedensi (QS. al-’Alaq [96]: 2, min ‘alaq)
  • Memiliki beban dan tanggungjawab yang sama untuk mewujudkan kehidupan yang baik (hayatan thayyibah) dengan kerja-kerja positif (‘amalan shaliha) (QS. an-Nah{l: 97)
  • Persamaan penghargaan di sisi Allah (QS. al-Ahza>b [33]: 35)

Oleh karena itu: Manusia sudah seharusnya

  • Saling mengenal (ta’aruf)
  • Saling menyayangi (irahmu man fil ard)
  • Saling bekerjasama dan membantu (ta’awanu ‘alal birri wat taqwa) (QS. al-Ma’idah [5]: 2)
  • Bermitra (QS. at-Taubah [9]: 71), karena manusia adalah pasangan (azwaj) (QS. Yasin [36]: 36)
  • Saling menghormati (tahiyyah) (QS. an-Nisa’:86) dan menghargai (tauqir), bahkan lebih dari yang kita terima.
  • Saling mengingatkan dengan bahasa yang tidak menyakitkan (tawasaw)
  • Musyawarah (QS.  as-Syura> [42]: 38)
  • Perhatian dan empati (ihtimam)

Untuk itulah Islam:

  • Anti kekerasan dan pengrusakan (mashlahah)(QS. al-Anfal [8]:1; al-Ma’idah [32]: 32)
  • Pantang menghina, merendahkan atau memberi label negatif (taskhir dan tanabazu (QS. al-Hujurat [49]: 11)
  • Menjauhi prejudice (su’udzan), mencari-cari kesalahan orang lain (tajassus) dan ghibah (QS. al-Hujurat [49]: 12)
  • Yang kuat melindungi yang lemah (QS. an-Nisa’: 75).
  • Tidak berperilaku yang merugikan diri dan orang lain (QS. al-Baqarah [2]: 279)
  • ‘Adalah/adil (QS. an-Nahl: 90, al-Hujurat: 9, an-Nisa’: 58)
  • Bersikap ihsan (QS. an-Nahl [16]: 90) terhadap semua
  • Bersikap moderat (tawasuth) dan seimbang (tawazun) (QS. al-Baqarah [2]: 143 dan al-Ahzab [33]: 35)
  • Bersikap toleran (tasamuh) terhadap perbedaan (QS. al-Mujadilah [58]: 11)
  • Memberi kebebasan yang bertanggungjawab (al-hurriyah) (QS. al-Kahfi [18]: 29)

Beberapa ajaran di atas adalah apa yang dikenal dengan Islam rahmatan lil’alamin, yaitu:

  • Islam yang menjunjung tinggi nilai-nilai dasar kemanusiaan tanpa membeda-bedakan.
  • Islam seperti inilah yang universal dan qat’i yang menjadi referensi bagi Islam yang partikular dan lokal yang muncul dari sebuah mazhab penafsiran terhadap teks-teks keagamaan.
  • Islam yang partikular dan lokal harus tunduk pada Islam yang universal dan qat’i.

Kita Cermati model Epistemologi Tafsir

  • Tafsir sebagai Proses: al-Qur’an harus terus dikaji ulang dan ditafsirkan. Nasr Hamid menyatakan bahwa al-Qur’an adalah teks bahasa yang secara mandiri tidak mampu melahirkan peradaban apapun, tanpa adanya dialektika antara akal manusia dengan teks dan realitas sendiri. Ini artinya, al-Qur’an sebagai mintij ats-tsaqafah (produsen peradaban)

Sebagai proses: tafsir harus disikapi secara kritis, sah untuk dipertanyakan, tafsir bersifat nisbi, relatif, dan temporer

  • Tafsir sebagai Produk
  1. Tafsir merupakan hasil atau produk pemikiran (mumtaj al-fikr) dari seorang mufassir sebagai respon terhadap kehadiran kitab suci.
  2. Sebagai produk: tidak sakral, bersifat historis, relatif dan tentatif (qabilun linniqas wat taghyir)

Struktur Dasar Epistemologi Tafsir dengan Nalar Mitis:

Sumber Penafsiran Metode Penafsiran Validitas Penafsiran Karakteristik dan Tujuan Penafsiran
Al-Qur’an dan hadis, Qiro’at, aqwal dan ijtihad sahabat, tabi’in dan para atba’ tabi’in, cerita israiliyat, dan syair jahiliyyah Bir-Riwayah, deduktif, disajikan secara oral melalui sistem periwayatan dan disertai analisis sedikit, sebatas kaidah-kaidah  kebahasaan Sahih tidaknya sanad dan matan sebuah riwayat, kesesuaian (coherency) antara hasil penafsiran dengan kaidah-kaidah kebahasaan dan riwayat hadis yang sahih Minimnya budaya kritis, ijmali, praktis, implementatif, Tujuannya sekedar memahami makna (restropective) belum sampai ke dataran magza (prospective), posisi teks sbg subjek dan penafsir sebagai objek.

Struktur Dasar Epistemologis Tafsir dengan Nalar Idiologis


Sumber Penafsiran Metode Penafsiran Validitas Penafsiran Karakteristik dan Tujuan Penafsiran
Akal (ijtihad) lebih dominan daripada al-Qur’an dan hadis. Teori-teori keilmuan (filsafat, tasawuf, kalam dan ilmu-ilmu tradisonal lainnya yang ditekuni mufassir Bir ra’yi dengan deduktif-tahlily, dengan analisis kebahasaan dan mencocok2kan dg teori dari disiplin keilmuan atau mazhab masing-masing mufassir Kesesuaian (coherency) antara hasil penafsiran dengan kepentingan penguasa, mazhab (aliran) dan ilmu yang ditekuni mufassir Idiologis, sektarian, atomistic, repetitif, pemaksaan gagasan non Qur’an, kecenderungan truth claim dan subjektif. Tujuannya untuk kepentingan kelompok, mendukung kekuasaan, mazhab, dan ilmu yang ditekuni mufassir.Penafsir sbg subjek, teks sbg objek.

Struktur Dasar Epistemologi Tafsir dengan Nalar Kritis

Sumber Penafsiran Metode Penafsiran Validitas Penafsiran Karakteristik dan Tujuan Penafsiran
al-Qur’an, realitas, akal (ra’yu) yang derdialektika secara sirkular dan fungsional.Sumber hadis jarang digunakan. Posisi teks al-Qur’an dan penafsir sbg objek dan subjek sekaligus Bersifat interdisipliner, mulai dari tematik, hermeneutik, lingusitik, dengan pendekatan sosiologis, antropologis, historis, sains, semantik dan disiplin keilmuan masing2 mufassir Coherency; antara hasil penafsiran dg proposisi2 yang dibangun sebelumnya.Correspondent; sesuai dg fakta empiris

Pragmatisme; solutif dan sesuai dengan kepentingan transformasi umat

Kritis, transformatif, solutif, non idiologis, menangkap ruh al-Qur’an. Tujuannya: untuk transformasi dan perubahan, tidak hanya mengungkap makna (meaning), tapi juga magza (significance)

KARAKTERISTIK TAFSIR

Paham Kebenaran Relevansi Implikasi
Tekstual Bayani Normatif A historis Skriptual Berpotensi menimbulkan kekerasan
Rasional Burhani Tentatif Historis partikular Berpotensi menimbulkan kekerasan
Intuitif Irfani Subjektif A historis Subjektif Berpotensi menimbulkan kekerasan
Empiris KontekstualWaqi’i&‘Ashr Relatif Historis kontekstual MendorongKeadilan dan Kesetaraan

Curah Pendapat

Pertanyaan Kritis

  • Corak penafsiran mana yang relevan dengan kondisi saat ini?
  • Apakah corak tafsir  tersebut ada dalam tradisi Islam?
  • Apakah corak tafsir tersebut semuanya diakui dalam Islam?

Jawabnya:

  • Ada dan diakui, tapi tidak semuanya relevan dan kontekstual dengan sekarang.
  • Karena itu, hasil pemikiran atau tafsir tersebut tidak sepantasnya disakralkan. Apalagi kalau bertentangan dengan Isla>m Rahmatan lil’a>lami<n.

Demikian

  • Semoga bermanfaat dan kita semua dengan cara masing-masing dapat berkontribusi untuk mewujudkan wilayah yang aman dan damai untuk semua anak manusia apa pun agama, kepercayaan, suku, etnis atau rasnya.
  • Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s