Berbagi Pengalaman: Upaya Peningkatan Kualitas PAI di SMA PIRI 1 Yogyakarta

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Oleh: Anis Farikhatin*

Upaya meningkatkan Kualitas Pendidikan Agama Islam di SMA PIRI 1 Jogjakarta dimulai dengan melakukan survey. Dari hasil survey melalui pengamatan langsung di dalam  proses pembelajaran  terdapat kecenderungan  sebagai berikut: (1) mereka lebih banyak diam dan pasif, (2) mereka tidak banyak bertanya atau menjawab jika tidak ditunjuk, (3) mereka lebih suka mencatat, atau sebagian lagi mengantuk, (4) catatan yang mereka buat ternyata sulit dipahaminya ketika dilakukan fetback, (5) mereka tidak siap dengan pelajaran, terbukti banyak yang tidak membawa buku pegangan, atau tidak mengerjakan pekerjaan rumah, (6) ada yang sering tidak masuk menghindari pelajaran agama karena belum bisa tugas hafalan

Dari hasil wawancara dengan siswa, dan masukan dari teman sejawat  menunjukkan, bahwa (1) masih banyaknya siswa yang menerima pelajaran agama sebagai beban karena banyaknya tuntutan tugas dan hafalan  yang harus  diterimanya dari guru agamanya. Selain itu (2) para siswa merasa bahwa materi pelajaran yang di berikan di kelas kurang menyentuh kehidupan  nyata sehari hari yang dihadapi siswa, sehingga terkesan seolah olah agama itu hanya  sekedar bisa sholat dan membaca Qur”an, ditambah lagi rajin absen salat jamaah dhuhur di masjid sekoolah. (3) Pendekatan yang digunakan masih mekanistik dan berorientasi pada aspek kognitif, sedangkan aspek affektif belum mendapat porsi yang selayaknya. Hal tersebut juga tercermin pada model evaluasi yang dikembangkan yang lebih didominasi aspek kognitif.

Pada tahun 2006  pemerintah  mencanangkan secara resmi pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).  Penerapan model KTSP di sekolah merupakan upaya nyata pemerintah memberikan kesempatan dan peluang yang luas bagi guru untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajarannya sesuai kebutuhan menuju peningkatan kualitas pendidikan, baik kualitas proses maupun kualitas hasil.

Dari segi proses, pembelajaran dikatakan berhasil dan berkualitas jika seluruhnya atau sebagian besar peserta didik terlibat secara aktif (partisipatif) baik secara fisik, mental, maupun social dalam proses pembelajaran, disamping menunjukkan kegairahan  dan semangat belajar yang tinggi, serta memiliki  rasa percaya diri. Dari segi hasil,  pendidikan agama dikatakan berhasil apabila terjadi perubahan sikap dan perilaku yang dilandasi oleh keimanan yang diyakininya.

Permasalahan pembelajaran di SMA PIRI I Yogyakarta serta upaya pemecahannya teridentifikasi sebagai berikut:

Kondisi Awal

Tindakan

Hasil

1. Siswa kurang bergairah dalam kegiatan pembelajaran:

  • Materi pelajaran yang kognitif teoritis dan terpisah dari pengalaman siswa.
  • Metode pembelajaran yang mekanistik dan monoton
  • Pemanfaatan fasilitas pembelajaran kurang optimal.

2. Partisipasi siswa dalam kegiatan pembelajaran rendah:

  • Model pembelajaran ”banking concept” yang berpusat pada guru
  • Kurang melibatkan penge tahuan dan pengalaman siswa.

3. Siswa kurang percayaan diri dalam kegiatan pembelajaran

  • Iklim belajar kurang kondusif

Pendekatan lebih dominan teologis normatik, kurang diimbangi pendekatan cultural empiris  yang mengedepankan sisi

Desain Pembelajaran dengan:

  • Pendekatan: Andragogis-Konstruktivistik yang bertumpu pada 6 prinsip dasar kegiatan.

–  Perencanaan bersama

–  Ciptakan iklim belajar  yang

kondusif

–   Mengidentifikasikan dan

merumuskan kebutuhan dan

harapan bersama.

–   Pemotivasian melalui

pemberian pemahaman

kepada siswa akan pentingnya

mempelajari sebuah topik

–  Mengelola ”Belajar dari

Pengalaman”

–  Evaluasi bersama

  • Materi yang relevan dengan tingkat kebutuhan dan berwawasan multikultural

  • Strategi Experiental Learning Cyclus :

–  melakukan/mengalami-  mengungkapkan

–  menganalisis

–  menyimpulkan

–  menerapkan

  • Metode Partisipatif: Diskusi kelompok, Studi  Kasus dan Permainan Peran.
Meningkatnya:

1.Kualitas  Proses pembelajaran dilihat dari:

  • Partisipasi siswa
  • gairah  dan motivasi belajar  siswa.
  • kepercayaan diri siswa

2. Kualitas hasil dilihat dari perubahan sikap dan perilaku siswa.

Hasil Temuan Awal Evaluasi  Proses Tindakan Evaluasi Hasil/Efek

Penetapan pendekatan andragogi  didasarkan pada asumsi: pertama, dari sisi peserta didik, pembelajaran ini dirancang untuk siswa SMA kelas XII dimana sesuai teori Peaget  mengenai perkembangan psikologi, seorang anak yang memasuki usia kurang lebih 12 tahun ke atas individu sudah dapat berfikir dalam bentuk dewasa yaitu dalam istilah dia ”sudah mencapai perkembangan pikir formal-operation. Dalam tingkatan perkembangan ini individu sudah dapat memecahkan segala persoalan secara logik, berfikir secara ilmiah, dapat memecahkan masalah-masalah verbal yang kompleks atau secara singkat sudah tercapai kematangan struktur kognitifnya. Dalam periode ini individu mulai mengembangkan pengertian akan diri (self) atau identitas (identitiy) yang dapat dikonsepsikan terpisah dari dunia luar di sekitarnya. Berbeda dengan anak-anak, di sini remaja (adolescence) tidak hanya dapat mengerti keadaan benda-benda di dekatnya tetapi juga kemungkinan keadaan benda-benda itu di juga.

Dalam masalah nilai-nilai remaja mulai mempertanyakan dan membanding-bandingkan. Nilai-nilai yang diharapkan selalu dibandingkan dengan nilai yang aktual. Secara singkat dapat dikatakan remaja adalah tingkatan kehidupan dimana proses semacam itu terjadi, dan ini berjalan terus sampai mencapai kematangan (dewasa). Dalam diri orang dewasa yang sudah tumbuh kematangan konsep dirinya, timbul kebutuhan psikologi yang mendalam yaitu keinginan dipandang dan diperlakukan orang lain sebagai pribadi utuh yang mengarahkan dirinya sendiri. Namun, tidak hanya orang dewasa tetapi juga pemuda atau remaja juga memiliki kebutuhan semacam itu. Dengan begitu jelaslah kiranya bahwa remaja seusia SMA juga memiliki kemampuan memikirkan dirinya sendiri, dan menyadari bahwa terdapat keadaan yang bertentangan antara nilai-nilai yang dianut dan tingkah laku orang lain.

Dalam perspektif  andragogi, pendidikan  merupakan proses humanistic. Demikian pula  dengan proses belajar  dan pembelajaran tercakup pula dalam proses pemanusiaan manusia. Oleh karena itu kegiatan pendidikan dikembangkan sebagai proyeksi humanisasi. Dengan demikian dalam pemilihan metode, tidak hanya mempertimbangkan ketepatan metode tersebut  untuk tujuan materi ajar, tetapi juga moralitas pendekatan tersebut  dalam hubungannya dengan pemeransertaan  dalam proses  tersebut.

Kedua, untuk memahami  pendidikan agama sebagai proses penyadaran manusia maka secara metodologis pelaksanaannya harus berlangsung secara demokratik, partisipatoris, dan dialogis yang  memungkinkan  terjadinya praksis dan proses aksi dari kegiatan pembelajaran tersebut. Kemampuan demikian memerlukan  pengkayaan pengalaman untuk  menghadapi dan  menyelesaikan  berbagai masalah kehidupan yang hanya mungkin diperoleh  dan berkembang  dalam iklim  belajar yang terbuka, dialogis dan demokratis. Oleh karenanya proses pembelajaran diarahkan  pada upaya mendorong siswa dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperoleh dan mengembangkan ketrampilan hidup (life skill) berdasarkan nilai nilai Islami melalui pengalaman. Pengalaman itulah yang pada akhirnya menjadi titik tolak proses belajar selanjutnya.

Ketiga, berkaitan dengan peran pendidikan agama  sebagai “wahana“ belajar hidup bagi siswa yang menempatkan realiatas kehidupan (pengalaman) sebagai basis pembelajaran yang diembannya, maka strategi ELC (daur belajar berdasarkan pengalaman) dengan metode partisipatif memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat secara aktif  melakukan latihan untuk berinteraksi, khususnya hubungan antar sesama melalui tindakan (action)  dimana  ilmu pengetahuan (dalam hubungannya dengan Pendidikan Agama Islam hádala aqidah-ahlak) tidak sekedar  diceramahkan, tetapi  diterjemahkan dan diwujudkan dalam bentuk tindakan (pengalaman). Strategi ELC mendorong siswa dan memberikan kesempatan kepadanya untuk memperoleh dan mengembangkan ketrampilan hidup (life skill) berdasarkan nilai nilai Islami melalui pengalaman.

Keempat, secara tehnis pemilihan  model pembelajaran didasarkan pada:   (1) ketersediaan waktu yang ada, dimana alokasi waktu untuk PAI adalah 6 jam per minggu, ditambah 2 jam untuk muatan lokal ditambah lagi dengan 2 jam extra kurikuler. Disamping itu masih ditambah lagi kegiatan pengajian kelas rutin setiap bulan di rumah salah satu siswa. Dengan demikian cukup leluasa bagi guru untuk melakukan kreatifitas mengembangkan strategi pembelajaran, (2) ketersediaan sarana yang ada seperti masjid sekolah, ruang Laboratorium Agama, Ruang Audio visual yang dilengkapi OHP, LCD, TV, VCD, cukup mendukung proses pembelajaran.

*Anis Farikhatin

Pendidik SMA PIRI 1 Jogjakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s