Dari Paradigma “Guru sebagai Pusat” ke Paradigma “Siswa sebagai Pusat”

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Selama ini para guru umumnya sangat nyaman dengan metode pembelajaran yang menempatkan guru sebagai pusat perhatian yang harus didengar dan dituruti oleh para siswa. Asumsi dasarnya adalah guru selalu lebih tahu, lebih pandai, lebih bijaksana dan lebih-lebih lainnya yang baik. Sebaliknya, para siswa diasumsikan sebagai tidak tahu, tidak mengerti, tidak bijaksana, dan serba kekurangan. Karena itu dalam paradigma pertama, guru menjadi narasumber, contoh dan komandan yang apa katanya harus dituruti.

Metode yang menempatkan guru sebagai pusat perhatian di kelas  ini sangat enak dijalankan oleh guru ‘tradisional’, karena guru-guru tidak harus pusing dengan situasi hidup, persoalan dan tantangan yang dihadapi para siswa. Situasinya akan lain bila terjadi perubahan cara berfikir yang menyebabkan ada pola relasi yang egaliter antar guru dan peserta didiknya. Guru menggeser rasa superioritasnya dengan kesadaran bahwa guru pun perlu belajar dari para murid dan bahwa para murid bisa saja mempunyai pengetahuan yang lebih luas karena aktif mengakses informasi dari berbagai sumber.

Seperti yang dilakukan oleh Pak Sartana dari SMA BOPKRI 1, beliau mepraktekkan paradigma yang memposisikan peserta didik sebagai actor utama dengan melakukan pembelajaran yang berbasis pengalaman hidup masyarakat. Sebagai contoh, dengam metode survey, para siswa diminta turun ke jalan untuk menanyai para pengendara dan pelajan kaki yang melintas di duatu perempatan ketika lampu merah dengan pertanyaan “apakah hari ini anda bahagia?”, dari sekian jawan yang muncul dipilah jawab yang bahagian dan tidak, hasilnya dicermati dan menjadi pertanyaan analitis? Misalnya, mengapa banyak orang tidak bahagia?. Bebagai aspek yang muncul dalam analisis ini menghadirkan kesadaran multidimensional kehidupan manusia yang tidak sederhana dan tidak hitam putih. Dari kesadaran multidimensi ini para peserta didik diajak untuk berefleksi tentang kehidupan pribadi dan sosialnya. Di sini para peserta didik akan menemukan nilai-nilai kehidupan (yang menjadi ajaran prionsipil agama-agama) dan atas dasar kesadarannya yang terasah  memahami bagaimana pentingnya nilai-nilai ini dijunjung tinggi untuk memuliakan harkat kemanusiaan.

Ibu Anis Farikhatin juga telah menyelenggarakan metode pembelajaran yang berbasis pengalaman dengan menempatkan para peserta didik sebagai pencari pengetahuan. Menurut Ibu Anis saat ini para peserta didik dan generasi muda pada umumnya sangat sulit diberi tanggung jawab, termasuk di sekolah. Seolah-olah, orang belajar adalah kebutuhan para guru dan orang tua. Ini merupakan tantangan tamabahan agar para guru bisa mengelola pembelajaran menjadi sesuatu yang menarik dan membangkitkan kesadaran baru bagi para peserta didik.

Contoh yang dilakukan Bu Anis misalnya, sebagai guru Agama Islam di SMA piri 1 Jogjakarta, ketika membahas masalah munakahat (hukum pernikahan dan etika keluarga), bukan pengetahuan-pengetahuan yang diberikan secara langsung tentang apa dan bagaimana itu pernikahan dan kehidupan berumah tangga, tetepi para peserta didik diberi tugas untuk dating ke Kantor Urusan Agama Kecamatan (KUA), Para Penasihat Perkawinan dan ke Pengadilan Agama untuk melihat  tingginya angka perceraian dalam masyarakat. Dalam hal ini peserta didik tidak diantar sekedar memasuki wilayah ideal ajaran agama, tetapi lebih dari itu adalah wilayah kenyataan hidup yang terjadi dalam masyarakat, sehingga bukan sekedar pengetahuan yang hitam putih, tetapi mengerti dinamika, persoalan, ketegangan dan kearifan yang bisa dituai dari adanya kesadaran reflektif tentang tema yang dibahas dengan kehidupan yang luas.

Kesungguhan untuk menerapkan metode pembelajaran yang menggeser paradigma guru sebagai pusat ini tidak lain karena dorongan untuk memfasilitasi peserta didik menjadi pribadi yang dewasa, tidak hanya mempunyai pengetahuan, tetapi kebijaksanaan dan kesanggupan untuk mengambil tangungjawab dalam kehidupan. Bersama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s