Inspirasi dari Mahatma Ghandi

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Terlahir sebagai Mohandas Karamcand Gandhi pada tangal 2 Oktober 1869 di Gujarat India. Saat remaja ia belajar hukum di Inggris, setelah jadi pengacara di Afrika Selatan, sebuah wilayah yang saat itu merupakan koloni Inggris. Di sana dia mengalami diskriminasi rasial karena politik apartheid.

Pulang ke India, ia memulai gerakan politiknya untuk memperjuangkan kemerdekaan India. Langkah yang dia tempuah terlebih dahulu adalah mengupayakan pemurnian dirinya dengan cara puasa dan menjadi vegetarian. Dia juga menanggalkan baju Eropa-nya, menggantinya dengan selembar kain yang diselempangkan, sebagaimana pakaian biksu atau pakaian laki-laki orang yang sedang menunaikan ibadah haji.

Prinsip yang digunakan dalam perjuangannya sering disebut sebagai satyagraha atau jalan lurus, menyatakan bahwa perjuangan kemerdekaan harus mengabdi pada kebenaran. Prinsip swadesi menekankan bahwa kemerdekaan akan diperoleh hanya dengan mengusahakan kemandirian dan sebagai bentuk penghargaan pada martabat kemanusiaan kemerdekaan harus diperjuangkan dengan cara ahimsa, atau emoh kekerasan secara total. Baginya violence is the weapon of the weak, nonviolence is that of the strong (kekerasan adalah senjata  bagi yang lemah dan anti kekerasan adalah kekuatan yang sesungguhnya). Prinsip-prinsip ini dikemudian hari mengilhami para pejuang kemanusiaan seperti Martin Luther King Jr. di Amerika Serikat dan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Pada masa perjuangan kemerdekaan India banyak orang berfikir bahwa umat Hindu dan umat Islam di India harus mempunyai Negara sendiri-sendiri. Gandhi orang Hindu yang rajin mempelajari ajaran-ajaran agama Islam dan Kristen tidak sepakat dengan pemisahan tersebut. Ratusan tahun orang India yang menganut beragam agama hidup  berbaur, untuk memisahkan resikonya akan terlalu besar. Gandhi melakukan aksi mogok makan untuk menunjukkan keyakinannya, hingga beberapa pimpinan politik Hindu maupun Islam menenangkan bahwa India bisa bersatu. Namun Ekslusivitas kelompok-kelompok beragama terus berkembang dan akhirnya terjadi pemisahan itu. Semua warga muslim berpindah ke wilayah yang kemudian di sebut Pakistan, sementara dan yang beragam Hindu pindah keluar dari wilayah itu. Seperti yang diperkirakan oleh Gadhi, pemisahan itu menghasilkan kekacauan luar biasa hingga memakan banyak korban dari kedua kelompok.

Pada tanggal 30 Januari 1948, seorang laki-laki Hindu menembak Gandhi hingga meninggal dunia karena menganggap Gandhi lebih berpihak pada kelompok Islam. Hari kelahiran Mahatma jiwa yang Agung Gandhi saat ini diperingati sebagai hari anti kekerasan Internasional pada setiap 2 Oktober.

Kematian Gandhi tidak membuat ajaran-ajaran Gandhi lenyap terkubur. Hingga saat ini nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Gandhi yang disarikan dari ajaran moral agama-agama tetap hidup dan kontekstual dengan persoalan kemanusiaan kontemporer. Ajaran lain yang cukup dikenal masyarakat luas adalah tentang Seven social Sin, ‘Tujuh Dosa Sosial” . Pertama politic without principles, tidak bisa lain praktek politik harus berdasar pada prinsip-prinsip yang menjunjung kepentingan semua kalangan, yaitu keadilan yang berkeadan untuk meninggikan martabat kemanusiaa

Kedua, wealt without work. Kekayaan atau kesejahteraan hidup yang didapat tanpa keringan dan kerja keras mencerminkan ada yang tidak sehat dalam distribusi materi dan kesempatan bagi semua kalangan. Ketiga adalah commerce without morality. Betapa pun keras persaingan dalam aktifitas perdagangan, moral harus tetap ditegakkan, sebab bila tidak demikian akan terjadi hukum rimba yang kuat makin kuat dan yang lemah makin lemah. Keempat education without character, pendidikan tanpa karakter. Bila pendidikan hanya bertujuan menghasilkan individu yang pintar saja tidak akan memberi andil bagi kehidupan sosial yang lebih baik.

Kelima pleasure without conscience kesenangan tanpa diserta kesadaran, merupakan sesuatu yang bisa menghilangkan akal sehat dan lebih jauh mbisa menjatuhkan martabat kemanusiaan itu sendiri. Kelima Science without humanity, ilmu pengetahuan tanpa didasari nilai-nilai yang menjunjung tinggi kemanusiaan jelas menjadi musuh yang membahayakan kehidupan alam semesta dan manusia. Terakhir adalah worship without sacrifice, bila peribadatan yang dilakukan orang beragama hanya sekedar rutinitas dan formalitas yang tidak menyentuh kesadaran akan hidup yang perlu diagungkan sebagai karya yang Maha Agung.

Di Indonesia, terdapat beberapa lembaga yang menganut dan turut menyosialisasikan gagasan dan sikap hidup yang disadari oleh nilai-nilai yang dikembangkan oleh Mahatma Gandhi. Lembaga tersebut antara lain Institut DIAN/Interfidei dan Yayasan Bali Santi Sena yang salah satu tokoh pendiri dan pengasuhnya adalah Ibu Gedong Bagoes Oka. Pada tahun 1976 yayasan ini mendirikan Ashram Gandhi Santi Dasa. Santi Dasa berarti pelayan perdamaian di Candidasa Karangkasem Bali. Ashram ini kemudian berkembang di Jogjakarta 1977 berdiri Ashram Gandhi Vidyapith dan di Denpasar 1986 yang khusus dihuni para mahasiswa. Kedua Ashram terbuka bagi siapa pun dari latar belakang agama, etnis  dan suku bangsa apa pun. Setelah Ibu Gedong meninggal, untuk mengenang perjuangannya nama Ashram diubah menjadi Gedong Gandhi Ashram, dengan pimpinan Bapak I Nyoman Sadra.

(bahan diambil dari Wikipedia dan berbagai sumber)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s