Kearifan Budaya Lokal dalam Menyikapi Perubahan Iklim

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Pendidikan Agama Menanggapi Masalah Lingkungan Hidup, Perspektif Kristen

oleh: I Nyoman Sadra.

Bali sejatinya telah memiliki sebuah konsep filosofis dalam menjaga alam serta kehidupan yang ada didalamnya. Konsep tersebut digambarkan dalam bentuk “Swastika” sebuah lambang yang disakralkan oleh masyarakat Bali. Bagi saya pribadi, gambar dasar dari Swastika yang berbentuk tanda tambah ( + ) adalah lambang keseimbangan sedangkan garis yang ditambahkan pada setiap ujung tanda tambah yang menunjukkan arah putaran Swastika menggambarkan bahwa Swastika itu berputar atau hidup. Dengan demikian, saya berpendapat bahwa pesan yang terkandung dalam Swastika tersebut adalah: “jagalah keseimbangan alam ini sehingga hidup dapat berlanjut”.

Bagaimana konsep ini diimplementasikan dalam hidup masyarakat Bali.

Yang pertama: di Bali kita mengenal pembagian ruang  yang kita kenal dengan sebutan Tri Hita Karana atau hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan manusia lainnya dan antara manusia dengan lingkungannya:

  1. Parahyangan/Priyangan: adalah sebuah ruang yang diperuntukkan bagi kegiatan yang berhubungan dengan Ketuhanan/Keagamaan. Ruang ini biasanya terletak dikawasan hulu dan kawasan strategis lainnya seperti pantai dll. Oleh karenanya, pura-pura besar hampir semuanya dibangun dikawasan seperti itu misalnya: pura Besakih, pura Lempuyang, pura Ulu Watu, pura Silayukti, pura Tanah Lot dll. Konsekwensi dari keberadaan pura-pura seperti itu adalah bahwa sesuai dengan “Bisame” dari masing-masing pura, dalam radius tertentu aktivitas atau pengadaan fasilitas yang tidak ada hubungannya dengan pura/keagamaan tidak diperbolehkan. Dengan demikian, hakekat keberadaan pura dengan bisamenya adalah sebagai alat penyelamat lingkungan dikawasan pura tersebut. Jika kawasan hulu dapat dilestarikan itu artinya bahwa hutan akan terpelihara dengan baik sehingga ia akan dapat berperan sebagai penahan erosi, pencegah banjir, penyimpan air, penjaga kesuburan tanah, pensuplai oksigen, penyerap gas beracun yang ada diudara, juga mempercepat turunnya hujan, mengatur suhu udara dll. Yang tak kalah pentingnya, hasil hutan adalah sumber penghidupan manusia dan mahluk lainnya.

Demikian juga halnya dengan pura-pura yang berada diwilayah pantai. Semuanya berperan sebagai penyelamat wilayah pantai sehingga abrasi dapat dicegah dan wilayah Bali dapat dipertahankan.

  1. Pawongan: adalah sebuah ruang yang diperuntukkan sebagai tempat pemukiman dan tempat berinteraksinya antara manusia yang satu dengan manusia lainnya. Gambaran kita pada umumnya, yang dimaksud dengan pawongan adalah desa atau tempat pemukiman dimana didalamnya dibangun perumahan, bangunan yang berfungsi sosial, bangunan sakral dll. yang pada dasarnya juga mengacu pada konsep Tri Hita Karana namun dalam skala yang lebih kecil. Desa dengan  semua bangunannya dibuat sedemikian rupa dengan mempertimbangkan berbagai faktor guna terciptanya keamanan, kenyamanan dan ketentraman dalam desa ( contohnya dapat dilihat dibeberapa desa tua seperti Tenganan, Bugbug dll. ).
  2. Palemahan: adalah ruang-ruang yang berada disekitar rumah atau desa yang pada umumnya memiliki peruntukan tertentu seperti “tebe”, kebun, sawah, sungai, danau, hutan dll.

Dengan demikian konsep Tri Hita Karana ini mengandung pesan bahwa orang Bali harus mampu melakukan kegiatannya secara proporsional sesuai dengan falsafah “Desa, Kala dan Patra” ( tempat, waktu dan situasi ).

Yang kedua:  Ritual.

Kita semua tahu dan merasakan bahwa Bali penuh dengan kegiatan ritual yang tidak sedikit memakan waktu, tenaga dan biaya. Namun ini juga yang menjadi salah satu daya tarik besar bagi para wisatawan untuk datang ke Bali sehingga Bali bermandikan “dolar”. Namun, perlu  disadari bahwa keinginan untuk mendapatkan dolar inilah yang membuat Bali menjadi “koplar”.

Bagaimana peran ritual Bali dalam memelihara alamnya?

Mengacu kepada bunyi Bhagavad Gita, disana disebutkan bahwa sarana sembahyang kita dalah “patram, puspam, phalam, toyam” ( daun, bunga, buah dan air ). Lalu, bagaimanakah implementasinya dikalangan masyarakat Bali? Di Bali, sarana sembahyangnya bukan hanya sekedar daun, bunga, buah, dan air tetapi terdiri dari berbagai macam dan tidak hanya itu melainkan binatangpun ikut menjadi sarana ritual. Untuk ritual tertentu diperlukan bahan-bahan tertentu ( daun tertentu, bunga tertentu, buah tertentu, air tertentu dan binatang tertentu ). Lalu apa maknanya?

Disamping mengandung makna simbolis dan filosofis tertentu kesemuanya itu mengandung pesan pelestarian alam. Logikanya adalah: “jika ritual-ritual tersebut memerlukan sarana-sarana tertentu kita harus bisa mempertahankan keberadaannya sehingga ritual tesebut selalu dapat kita lakukan”. Selain sarana ritual, jenis dan lokasi ritual juga mengandung pesan pelestarian misalnya: Tumpek Pengatag adalah bentuk penghormatan  kita kepada tumbuh-tumbuhan yang biasanya dilakukan dikebun, Tumpek Kandang merupakan perwujudan rasa hormat kita kepada binatang yang pada umumnya dilakukan dekat kandang binatang, Tumpek Uduh/Wariga dan sebutan Ibu Pertiwi adalah perwujudan rasa hormat kita kepada tanah, upacara Melasti/Mekiis ke laut merupakan perwujudan rasa hormat kita kepada laut/air, dll.

Khusus untuk hari raya “Nyepi”, disamping ia mengandung makna pengendalian nafsu, ahamkara/ego, dan kroda/amarah, dengan melakukan tapa brata Penyepian yang berarti menghentikan kegiatan dalam waktu tertentu kita telah memberikan waktu istirahat terhadap alam untuk mengembalikan kekuatannya dari penyusutan serta kelelahannya sebagai akibat dari exploatasi manusia. Dijaman sekarang ini, walaupun hanya sehari, kontribusi dari hari raya Nyepi terhadap pengurangan emisi karbon khususnya di Bali sangatlah besar artinya. Pertanyaannya sekarang adalah adakah kita menyadari makna atau pesan-pesan yang terkandung dibalik ritual Bali yang begitu penuh falsafah?

Yang ketiga adalah Awig-Awig:

Awig-awig adalah aturan tertulis yang dirumuskan oleh sebuah masyarakat untuk membentengi dirinya dari berbagai bentuk perusakan baik itu perusakan terhadap alam maupun terhadap tatanan kehidupan manusianya sendiri sehingga pelanggaran terhadap bunyi awig-awig mengandung konsekwensi hukum, yang untuk pelanggaran tertentu sangsinya cukup berat ( contohnya di Tenganan Pegringsingan: penebang kayu tanpa ijin akan didenda sejumlah uang dan kayu yang ditebang disita oleh desa adat. Pada umumnya hanya pohon yang sudah mati yang boleh ditebang. Jika pelanggaran penebangan dilakukan lebih dari tiga kali maka bukan tidak mungkin sang pelaku kehilangan sebagian besar haknya termasuk diusir dari desa. Masyarakat Tenganan juga dilarang untuk menggadaikan apalagi menjual tanahnya kepada orang luar Tenganan ).  Jadi pendapat saya adalah bahwa awig-awig adalah benteng terakhir untuk menyelamatkan kehidupan dan alam Bali.

Dari uraian saya diatas saya menyimpulkan bahwa konsep kehidupan masyarakat Bali adalah “konsep kehidupan berkelanjutan atau sustainable life”.

Semoga pikiran yang baik datang dari segala arah.

Tenganan, 20 September 2007.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s