Membangun Mentalitas Pembelajar

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Meski pun pendidikan dan pengajaran adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan bagai dua sisi mata uang, kita sering terjebak dalam kerangka berfikir yang tidak komplit. Kita sering mengkonotasikan tidak loancarnya pendidikan dengan gaji guru yang kurang, sekolah yang kurang dana, sekolah yang rubuh atau kurikulum yang tidak mendukung. Sementara proses pembelajaran seringkali tidak dicermati dan didalami.

Kita pasti mengenal betapa banyaknya hambatan yang menyebabkan proses pembelajaran tidak berjalan lancar dan betapa sering kita menutup mata pada capaiannya. Kita sering tida mempelajari kondisi lapangan beserta kompleksitasnya sehingga kita tidak tahu apakah pembelajaran kena atau tidak. Belum lagi kesempatan benchmark atau studi banding sering tidak kita manfaatkan secara maksimal sebagai bentuk pembelajaran. Kita pasti sadar betapa sering kita membuang muka dan pura-pura tidak tahu tentang kesalahpahaman persepsi dan ketidakjelasan dalam proses pembelajaran yang tidak kita benahi sampai tuntas.

Di Indoensia saat ini banyak kalangan yang terhenyak melihat kenyataan bahwa pembelajaran yang kita hasilkan setelah merdeka ini kalah oleh Negara tetangga yang pernah mengimpor guru dan dosen dari Indonesia. Sebenarnya kita sudah menyadari bahwa banyak proses pembelajaran yang gagagl ketika kita tahu bahwa banyak  atau bahkan mayoritas penduduk masih mau menelan nilai-nilai yang tidak produktif dan negatif, serta kesadaran yang kurang terhadap kemanusiaan, lingkungan hidup yang akhirnya membawa akibat pada perlambatan pembelajaran atau bisa jadi justru mengakibatkan proses pembodohan.

Peter Senge (1990) berpendapat bahwa pembelajaran terjadi bila individu secara teratur diberi ruang untuk menemukan dan mengkreasikan realitas  yang dihadapi atau dipelajarinya. Dengan demikian individu dalam setiap tahapan bisa menjadi manusia yang baru, bisa melakukan, memahami atau mengahyati sesuatu yang sebelumnya belum dialami. Bahkan melalui pembelajaran ini seseorang bisa mempunyai persepsi baru, yang berbeda terhadap realitas yang dialaminya dan menjadi bagian dari terbentuknya generasi yang mempunya kerangka dan cara berfikir baru.

Untuk membangun sikap mental pembelajar ada beberapa hal yang penting untuk diperhatikan :

Hindari Kebiasaan Asal Bicara

Sikap mental yang perlu diperhatikan dalam konteksmeningkatkan semangat pembelajaran adalah menghindari kebiasaan bicara asal-asalan, mengira-ngira data yang sebenarnya bisa dicari untuk dibuktikan kepada public. Ketidakakuratan dalam berbicara akan melahirkan tindakan yang asal-asalan atau ngawur. Padahal bila dikalkulasi, tindakan asal-asalan dalam sebuah lembaga atau komunitas menyebabkan pemborosan yang sangat merugikan, belum lagi kalau berimplikasi memunculkan persoalan dalam relasi dan komunikasi sosial.

Riset dan Bereksperimen

Beberapa orang yang sukses dalam mengatur perkembangan pribadinya sering menggunakan kata ‘riset’ untuk menyebut upaya-upaya mencari tahunya. Misalnya, “ saya sedang meriset bagaimana mengusir semut dari rumah tanpa membunuh mereka”, atau “Saya sedang meriset apa kaitannya mengurangi menonton TV dengan daya ingat dan kreativitas saya”. Hal-hal seperti ini menunjukkan bahwa untuk melakukan riset tidak harus dilaboratorium dan bahwa kegiatan ini sesungguhnya adalah bentuk kesadaran yang menghasilkan upaya sistematis untuk mendapatkana pengetahuan baru.

Ketika kata riset ini digunakan, meski rasa ingin tahu yang hendak dipenuhi bukan hal yang umumnya dinilai tidak terlalu penting, tetapi pihak yang ingin tahu melakukannya dengan serius. Pihak yang bersangkutan ini akan membaca buku atau mencari artikel- artikel tentang semut, atau segala hal yang terkait dengan ketergantungan pada TV dan kesehatan otak.  Dengan memberi label riset orang menjadi lebih bergairah dan sistematis dalam menjawab rasa ingin tahu, sehingga menghasilkan sesuatu yang lebih banyak dan berkualitas.

Belajar dari Mana dan Siapa saja

Masyarakat kita hingga saat ini masih terbuai dengan anggapan-anggapan bahwa hanya orang-orang yang mempunyai otoritas saja yang boleh dan bisa menguasai suatu hal, dengan anggapan bahwa hanya mereka yang mempunyai otoritas yang mempunyai kebijaksanaan untuk memngembangkan dan menyampaikan pada masyarakat. Situasi ini harus diubah karena sangat menghambat tumbuhnya semangat pembelajaran dalam masyarakat. Sudah saatnya kita mengerakkan siapa saja untuk untuk belajar dari dari mana saja dan siapa saja, termasuk dari persoalan yang muncul misalnya di sekolah.

Sekolah yang guru dan para siswanya tidak mempunyai semangat untuk berkembang, berkompetisi atau melakukan pembaharuan-pembaharuan bisa dijadikan tema studi kasus yang dipelajari baik oleh para pendidik maupun siswanya. Jalan keluar dari persoalan yang dihasilkan bisa jadi adalah sesuatu yang melibatkan analisa diri pribadi-pribadi yang ada di sekolah tersebut, sehingga sangat mungkin membangkitkan inspirasi untuk melakukan pembelajaran dalam ruang lingkup lain yang lebih luas. Beberapa organisasi menyebut kegiatan ini sebagai ‘Santayana Review’, diambil dari nama Filsof George Santayana yang pernah menyatakan “ Mereka yang tidak mau mengingat apa yang terjadi di masa lalu akan terjebak mengulanginya”.

Kesediaan untuk melakukan pembelajaran bagi para majer dan jajaran pimpinan juga bisa dimulai dengan kesukaan untuk bertanya pada bawahan, mencari masukan dari berbagai pihak yang langsung maupun tidak langsung terkait dengan kebijakan lembaga. Di sinilah secara tidak langsung kita menyebarkan penyadaran bahwa pengetahuan tidak lagi merupakan dominasi para elit dan bahwa menghabat perkembangan pengetahuan yang ditumbuhkan sendiri oleh masyarakat sama halnya dengan meyebar kebodohan.

Penyemangat

Tampaknya tidak mudah mengubah cara hidup, persepsi dan nilai individu. Tetapi bila melihat hasilnya, kita tidak akan mundur. Bagaiamana pun membangun mentalitas pembelajaran harus selalu dihidupkan, karena meningkatkan harkat hidup adalah keindahan yang tak ada duanya.

(Naskah bersumber dari tulisan Eileen Rachman dan Sylvina Savitri, Kompas 15 Maret 2008, ditulis kembali dengan adaptasi oleh Listia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s