Membangun Wawasan Bhineka Tunggal Ika melalui Penanaman Nilai-Nilai Dharma

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Oleh. Drs. Ida Bagus Agung. MT ( ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia DIY )

MENINGKATKAN SRADHA DAN BHAKTI

Sasaran pokok pembangunan dalam bidang keagamaan adalah meningkatkan kualitas        “ sradha dan bhakti “ umat  hindu terhadap Sang Hyang Widhi ( Tuhan Yang Maha Esa ). Untuk itu umat hindu dididik dan dibina agar  meyakini betul yang namanya “Panca Sradha” ( lima keyakinan/kepercayaan  ) yaitu : (1) percaya adanya Tuhan Yang Maha Esa, (2) percaya adanya Atman, (3) percaya adanya Hukum Karma Phala, (3) percaya adanya Kelahiran Kembali/Reinkarnasi dan (5) percaya dengan adanya Moksa.

Sedangkan  yang dimaksud dengan bhakti adalah : cinta kasih yang sejati kepada Tuhan dari seseorang dengan sepenuh hati. Jadi pengertian tentang bakti ini sejalan dengan makna kata parama prema yang artinya kasih yang sejati.  Bila kita mengkaji berbagai bentuk, sifat bhakti atau metodologi pendidikan  untuk senantiasa bhakti kepada Tuhan YME, kitab Bhagavata Purana ( VII.52.23) membedakan 9 jenis bhakti yaitu:

  1. Sravanam ( mempelajari keagungan Tuhan dengan membaca atau mendengarkan pembacaan kitab-kitab suci,
  2. Kirtanam ( mengucapkan/menyanyikan nama Tuhan berulang-ulang )
  3. Smaranam ( Mengingat nama-Nya atau bermeditasi tentang-Nya )
  4. Padasevanan (Memberi pelayanan kepada Tuhan  termasuk melayani / menolong berbagai makhluk ciptaan-Nya )
  5. Arcanam (Memuja kekuasaan-Nya atau memuja keagungan-Nya )
  6. Vandanam ( sujud dan kebhaktian )
  7. Dasya ( memberi pertolongan dengan penuh keikhlasan )
  8. Sakhya ( memandang Tuhan sebagai sahabat sejati, yang memberi pertolongan ketika dalam bahaya
  9. Atmanivedanam ( Penyerahan diri secara total kepada-Nya ).

Berbagai bentuk bhakti sebagaimana tersebut diatas harus dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari. Jadi dengan peningkatan kualitas sradha dan bhakti ini, maka akan  menghasilkan atau terbentuklah manusia-manusia pembangunan yang bermoral tinggi.

TUHAN YANG MAHA ESA

Betulkah umat hindu  memuja  Tuhan Yang Maha Esa ? Pertanyaan semacam itu acapkali muncul dalam berbagai kesempatan.  Bahkan sering kali disimpulkan oleh orang yang tidak mengerti tentang konsep keTuhanan dalam hindu bahwa umat hindu menyembah banyak Tuhan. Kalau kita perhatikan dalam mantram Trisanddhya, bait 2 dan 3 memang umat hindu mengucapkan banyak nama Dewa, perhatikan kutipan baitnya sbb:

Bait 2.  ….. Narayanah na dwitiyo’sti kascit.

Om Sang Hyang Widhi yang diberi gelar Narayana, segala makhluk yang ada berasal dariMu, Dikau bersifat gaib tak berujud, tak terbatas oleh waktu, mengatasi segala kebingungan, tak termusnahkan, dikau maha cemerlang, maha esa tidak ada duanya, disebut Narayana dipuja semua makhluk

Bait 3. …… Om tvam sivas tvam mahadevah,isvarah paramesvarah,………

Om Hyang Widhi disebut pula dengan nama Siwa, Mahadewa, Iswarah,Parameswara,Brahma, Wisnu dan Rudra, Hyang widhi adalah asal mula  dari semua yang ada.

Kata na dwitiyo yang artinya : hanya satu Tuhan tidak ada duanya pada bait kedua jelas menunjukkan bahwa agama hindu memuja satu Tuhan , meskipun beliau dipuja dengan banyak nama ( sesuai dengan sifat, karakter atau aspek kekuasaanNya),  seperti Narayana, Siwa, Mahadewa, Iswara, dllnya sebagai tertuang dalam bait 2 dan 3 mantram Trisandhya tadi.

Sa visvavya esa ekah ( Tuhan adalah Esa kepadaNya kita memuja )

( Rg Veda I.100.7.)

Ya etam devam eka vrtam deva, na dvityo na trtiyascaturtho napyucyate,

Ya etam devam eka vrtamdeva ( Ketahuailah bahwa Dia hanya Esa,tidak dua, tidak tiga,tidak empat Ia disebut, ketahuilah bahwa Dia hanya Esa. )

( Atharva Veda XIII.4.15-16 )

WEDA SEBAGAI SUMBER PENGHAYATAN PADA TUHAN.

Jika ada orang yang menyebutkan bahwa agama hindu bukan agama wahyu- apalagi kalau disebutkan sebagai agama buatan manusia, maka hanya ada dua kategori tentang orang  itu :  dia tidak tahu atau dia menghina.

Hindu adalah agama wahyu, agama yang punya kitab suci secara jelas. Ajaran agama Hindu diwahyukan oleh Tuhan langsung diterima oleh  para  Maharsi  ( yang terkenal ada 7 maharsi yaitu :  maharsi Grtsamada, Wiswamitra, Wamadeva, Atri, Bharadwaja,Wasistha dan maharsi Kanwa ). Kemudia maharsi yang banyak jasanya karena melakukan pengelompokan  Kitab Weda adalah  Maharsi Wyasa  yang berhasil menghimpun Catur Weda yaitu Rg Weda, Yayjur Weda, Sama Weda dan Atharwa Weda.  Disamping menghimpun Catur Weda, Maharsi Wyasa juga menyusun kitab Mahabharata, Bhagavadgita dan Brahmasutra.

Hindu  adalah agama tertua di dunia. Para sarjana dari Timur maupun barat berikhtiar untuk mencoba menentukan  kapan sebenarnya wahyu weda diturunkan. Masing-masing akhli memmiliki pandangan yang berbeda-beda. Lokamanya Tilak Sastri memperkirakan  bahwa wahyu Weda  telah turun 6000 tahun sebelum masehi. Sedangkan Dr. Max Muller memperkirakan sekitar 1200-800 sebelum masehi, Heine Gelderen  1500-1000 SM, Dr. Haug 2400 SM,  dan ilmuan lainnya. Berdasarkan perkiraan diatas jelaslah bahwa wahyu weda telah turun ke dunia berabad-abad  sebelum tahun masehi.

Guna menjaga kemuliaan kitab Suci Weda, agar tidak dikembangkan secara sembarangan maka disusunlah pedoman yang termuat dalam kitab  Manawa Dharmasastra Bab II sloka ^ yang berbunyi sbb: “ idanin dharma pramanayaha wedo’kilo dharma mulan smrticile ca tadwiedam,  acaraccaiwa sadhunam atmanastustirewa ca (  seluruh pustaka suci weda adalah sumber p[ertama dari dharma, kemudian tingkah laku dari orang-orang suci terpuji yang telah mendalami ajaran suci weda dan tatacara peri kehidupan orang-orang suci, lalu adapt istiadat dan akhirnya kepuasan rohani pribadi. Jadi menurut Manawa Dharmasastra, pedoman  penjabaran  ajaran agama  untuk menghayati kemahakuasaan Tuhan terdiri dari 5 struktur yaitu : Sruti, Smerti, Sila, Acara dan Atmanastuti ( sruti = wahyu Tuhan, Smerti = kitab penjabaran,  suplemen dari Sruti, Sila = tingkah  laku yang tidak menyimpang dari kitab suci weda, Acara =  tradisi keagamaan yang sudah lama berlaku  dan telah teruji kebenarannya dan dipakai sebagai sumber dharma untuk menghayati Tuhan, Atmanastusti =  menghayati Tuhan yang bersifat sangat individu  dan dapat memberi kepuasan rohani.

MENEGAKKAN  DHARMA

Dharma berarti, ajaran kerohanian, kebenaran, kodrat dan  peraturan-peraturan yang  menuntun orang menjadi manusia yang baik dan benar untuk mencapai kebahagiaan dan keselamatan. Karena kodrat dan peraturan  itu mengatur manusia menjadi manusia yang baik dan benar, maka  dharma juga berarti kebajikan. Kitab-kitab suci hindu dengan tegas mengajarkan kepada umatnya untuk menjauhi perbuatan yang tidak benar dan hidup di jalan dharma.

Kitab-kitab suci hindu mengajarkan :  nilai-nilai  dharma  ( antara lain kebenaran, kesucian, kasih sayang,  kedamaian, kebajikan, kejujuran, dan lain sebagainya ), harus dipraktekkan dalam pikiran-perkataan maupun perbuatan. Apabila seseorang menuntun hidupnya dengan berfikir yang benar, berbicara yang benar dan berbuat yang benar  maka tidak akan ada kejahatan dalam pikiran-perkataan dan perbuatan  dan ia akan hidup dalam kehidupan yang benar dan inilah yang akan mengantarkanya  dan makhluk hidup lainnya  pada kehidupan yang penuh kebahagiaan  dan kedamaian sehingga tujuan agama tercapai yaitu : Moksartham jagadhita ya ca iti dharma.

Meskipun manusia merupakan makhluk paling sempurna diantara makhluk ciptaan Tuhan, namun Tuhan juga menggariskan  ketentuan bagi manusia bahwa mutu kemanusiaannya masih dalam proses penyempurnaan. Manusia wajib berjuang untuk mencapai kesempurnaan tersebut dengan berlindung pada dharma. Dengan perkataan lain misi orang hindu  adalah menegakkan dharma untuk mencapai jagadhitha dan moksa.

TUJUAN HIDUP  MANUSIA HINDU

Agama hindu disamping memiliki tujuan agama, juga menentukan tujuan  bagi hidup manusia supaya kelahirannya ke dunia ini memiliki makna .  Tujuan hidup manusia hindu  secara rinci tertuang dalam  ajaran  Catur Purusa Artha yaitu : dharma, artha, kama dan moksa.        ( Oka Punyatmadja,IB. 1993:1-5).

■Tujuan yang pertama adalah : dharma..

Segala sesuatu yang bertujuan memberi kesejahteraan  dan memelihara semua makhluk itulah yang disebut dengan dharma. Segala sesuatu yang membawa kesentosaan dunia  itulah dharma yang sebenarnya.” Çantiparwa,123,4 (Oka Punyatmadja, IB.1993:5)

Manusia yang ingkar akan dharma  tidak akan banyak berguna dalam hidup ini, demikian tersurat dalam kitab suci sarasamuccaya,45 sbb:

Kunang ikang wwang, pisaningun damelakenang dharmasedhana,

Apa apaning pari, wukaning antiga padanika,

Rupaning ana tan papakena.”

Oleh karena  itulah  seseorang  selama hidupnya  baik dalam berfikir, berbicara dan berbuat harus berdasarkan pada dharma (kebenaran). Seseorang yang bertekad  menegakkan dharma,  ia tidak boleh menipu, tidak boleh melakukan kecurangan, tidak boleh korupsi (asteya), tidak boleh menyakiti tanpa sebab dan melakukan kekerasan terhadap sesama makhluk hidup       ( ahimsa).

■Tujuan yang kedua adalah : artha.( kekayaan, benda dan materi duniawi ).

Artha penting bagi manusia  dan manusia wajib mencari dan mengumpulkan artha  untuk keperluan hidup pribadi dan social. Dengan dasar dharma manusia boleh mengejar artha sebanyak banyaknya, melalui kerja keras, doa dan cara yang jujur. Tetapi harus disadari keberhasilan dalam mengejar artha  sangat tergantung pada nasib manusia masing-masing.

■Tujuan yang ketiga adalah : kama.

Kama adalah keinginan, nafsu yang mendorong sesorang bergairah dan bergirang dalam hidup ini. Obyek dari kama adalah artha.  Kama harus dikendalikan, harus dipenuhi secukupnya saja tidak perlu berlebih lebihan karena dapat menghambat perkembangan spiritual dan mengganggu kesehatan tubuh kita. Manusia sering  kali menerima celaka  dan sengsara dalam memenuhi nafsunya atau kamanya bila tidak berdasarkan pada dharma. Oleh karenanya dharma wajib menjadi pembimbing, pengendali dalam memenuhi tuntutan  akan kama dan artha, sebagaimana diisyaratkan  di dalam kitab Sarasamuccaya 12, sbb:

Pada hakekatnya bila artha dan kama dituntut , maka hendaknyalah dharma  dilakukan terlebih dahulu. Tidak dapat disangsikan lagi  dan pasti akan diperoleh artha dan kama itu nanti. Tidak akan ada artinya  jika artha  dan kama  itu diperoleh menyimpang dari dharma.”

■Tujuan ke empat adalah : moksa.

Moksa dalam bahasa jawa diungkapkan dengan kalimat  manunggaling kawulo lan Gusti yaitu tercapainya kebahagian yang abadi , bersatunya atman atau jiwa dengan Brahman ( Tuhan Yang Maha Esa ). Doktrin Hindu dengan tegas menyatakan : kejarlah harta , kumpulkan harta sebanyak-banyaknya, penuhi kama secukupnya saja, capailah moksa dan untuk itu seseorang harus bertindak berdasarkan pada  dharma. Jadi dharma mempunyai kedudukan yang paling penting  dalam konsep catur purusa artha., karena dharma-lah yang menuntun dan membimbing  manusia  untuk mendapatkan  kesempurnaan hidup, ketenangan dan keharmonisan hidup lahir dan batin serta kebahagiaan yang sejati.

AHIMSA ADALAH DHARMA UTAMA

Salah satu doktrin hindu yang sangat penting adalah  ahimsa paramo dharmah yang artinya melaksanakan ahimsa adalah melakukan kebajikan yang tertinggi. Ahimsa berarti tidak melakukan kekerasan dalam bentuk apapun (pikiran, perkataan dan perbuatan).Dalam kitab yajur Veda Samhita  ( Padit Bansi 2006:128)  terdapat ajaran sbb:

Engkau tidak boleh menggunakan tubuh  yang diberikan Tuhan untuk

Membunuh makhluk Tuhan, apakah mereka manusia, binatang atau apapun”

( Yajur Veda Samhita 12.32)

Doktrin dari ahimsa  didasarkan pada  doktrin  agama hindu : “Vasudaiva Kutumbakam” yang artinya semua jenis kehidupan sebagai  satu keluarga . Ini berarti bahwa Brahman (Tuhan),meresap pada semua makhluk, menyatu dalam semua makhluk hidup. Semua pikiran, perkataan dan perbuatan yang menyakiti makhluk hidup adalah perbuatan dosa karena semua makhluk hidup itu  adalah perlambangan/berasal  dari Tuhan ( sarwam kallvidam Brahman ).

Dari sudut pandang tanpa kekerasan, ahimsa berarti cinta universal untuk semua makhluk. Karena Tuhan  berada pada semua makhluk, maka  cinta antara makhluk adalah cinta  pada Tuhan. Seseorang yang menjalankan laku ahimsa harus mengendalikan kemarahan karena kemarahan ( apalagi yang membabi buta) mengarahkan  orang itu untuk melakukan kekerasan. Ahimsa juga mengajarkan  rasa sayang pada pohon dan tanaman. Dengan menerapkan ahimsa pada hidup tanaman, hindu adalah agama yang menyadari pentingnya untuk melindungi lingkungan hidup.

DAFTAR BACAAN

Agung Oka.I.G., 1994, Slokantara, Hanuman sakti ,Jakarta.

Dewanto,S.S., 2005, Yajur Veda Samhita,Paramita, Surabaya.

Kajeng.I.N, Dkk.,1999, Sarasamuccaya, Paramita, Surabaya.

Maswinara,I.W.,1997.,Bhagavadgita, Paramita, Surabaya.

Maswinara,I.W.,2004, Rg Veda Sanhita, Paramita, Surabaya.

Pandit Basi., 2006, Pokok-pokok Pemikiran Hindu dan Filsafat, Paramita, Surabaya.

Pendit,N.S., 1993, Aspek-aspek Agama Hindu, PT Penebar Swadaya, Jakarta

Punyatmadja Oka,I.B., 1993, Dharma sastra, Yayasan Dharma Sarathi, Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s