Mencari Pendekatan yang Inspiratif untuk Pendidikan Agama

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Oleh:

Purwono Nugroho Adhi

(Pengantar: Berbagai upaya menjadikan pendidikan agama sebagai sebuah pendidikan yang menyenangkan, menjawab kebutuhan para siswa dan turut memberi andil dalam transformasi sosial menuju kehidupan bersama yang adil dan berberkeadaban,  Forum Komuniaksi Guru Guru Agama (FKGA), setiap bulan menyelenggarakan diskusi terbuka yang diselenggarakan secara bergiliran yang dan sukarela. Kolom ini khusus menampilkan ringkasan (summary) hasil diskusi-diskusi tersebut. Berikut ini ringkasan diskusi 11 September 2007 di GKJ Maguwo –redaksi)

Pendekatan psikologi perkembangan yang mengamati dinamika psikologis manusia berdasarkan kurun waktu daur hidupnya mendapatkan pengaruhnya yang cukup berarti. Hal itu tampak dengan maraknya teori yang mengacu kepada perkembangan seseorang dari lahir hingga dewasa. Salah satunya yang cukup progresif yaitu adanya teori tentang ‘perkembangan kepercayaan eksistensial’ seseorang. Teori ini dikembangkan oleh James W. Fowler ini menyatakan bahwa “kepercayaan eksistensial merupakan sebuah rangkaian yang mempunyai aspek dan perkembangannya tersendiri menyangkut bagaimana seseorang beragama”.

Di dalam ruang beragama, ada dimensi kepastian rasional tetapi ada juga dimensi keyakinan. Dimensi kepastian rasional merepresentasikan cara dan tata berpikir yang bersifat logis, analitis dan obyektif mengenai konsep teologi dan filsafat, tetapi di balik semua itu ada yang paling mendalam, yaitu dimensi keyakinan. Dimensi keyakinan menyiratkan sebuah proses berpikir yang paling mendasar dan prinsipil, menyangkut tata nilai, serta cara pandang yang tak sekedar analitis dan logis. Pada dimensi keyakinan terkait dengan bagaimana proses pembetukan identitas diri dan perkembangan hidup selanjutnya.

Individu yang menganut suatu kepercayaan atau beragama padanya menyiratkan berbagai kemampuan yang sangat kompleks. Hal itu dikarenakan, di dalam aspek beragama, seseorang terlibat mengkontruksi dan mengkonsitusi (menetapkan) segala pemahaman akan nilai agama dan menjalani berbagai proses pemahaman tentang hidupnya. Maka terjadi penyatuan yang menyeluruh antara orientasi kebutuhan akan penjelasan rasional dengan maksud-maksud mendasar yang bersifat afeksional (keyakinan).

Mengingat kompleksnya dimensi yang perlu diperhatikan, hendaknya pendidikan agama terbuka pada bentuk-bentuk pendekatan alternatif, baik metode, penilaian-evaluasi dan proses yang sungguh-sungguh mampu mengolah aspek kepercayaan eksistensial siswanya. Tentu saja, kepentingannya agar pendidikan agama bersifat lebih partisipatif dalam pengertian tidak semata-mata menjadikan guru sebagai pusat perhatian  dan para sisa menjadi obyek pembelajaran yang pasif. Selain itu lebih mengembangkan citra pendidikan agama sebagai salah satu pendidikan yang terkait langsung dengan nilai kehidupan, dan bukanlah pendidikan agama yang sarat dengan tuntutan-tuntutan untuk mendapatkan nilai dan berisi norma sosial semata yang terkesan membebani.

Ada beberapa pola pendekatan yang dapat dicoba diterapkan dalam proses pembelajaran pendidikan agama. Prosesnya tidak hanya terbatas kepada aspek pengetahuan, tetapi sampai kepada upaya pemahaman yang bersifat kenousis (menyapa batin)  dan secara serius mengembangkan nilai-nilai etis, moral dan melalui refleksi. Maka, ruang kelas tidak menjadi satu-satunya ruang belajar, melainkan dimungkinkan seluas-luasnya menjangkau berbagai pengalaman hidup menyangkut kagamaan dan sosial siswa. Untuk itu, penilaian yang diberikan para guru untuk para siswa pun tidak terbatas pada formula penilaian kelas dalam arti kuantitatif dengan angka, melainkan sampai kepada penilaian yang bersifat kualitatif.

Tulisan dari para siswa tentang pengalaman mereka terjun dalam dunia yang berbeda ini bisa menjadi bahan untuk mengembangkan refleksi tentang kehidupan dan bagaimana makna kehidupannya di tengah kehidupan yang penuh dengan persoalan disamping anugerah yang dirasakannya. Pada kesempatan inilah tahapan-tahapan perkembangan kepercayaan eksistensial bisa dicermati dan guru pun bisa mengambil pelajaran dari apa yang ditemukan oleh para siswa dalam kehidupan nyata.

Beberapa sekolah sudah banyak usaha yang menempatkan pendidikan agama sebagai salah satu cara untuk melakukan perubahan sosial. Tentu saja bentuknya dalam proses pencarian dan perubahan secara terus menerus. Salah satunya dengan belajar dari kehidupan melalui pendekatan ini, para siswa dituntut untuk mengenal realitas sosial di sekelilingnya. Mereka harus melakukan wawancara kepada seseorang saksi mata, pelaku, pekerja atau siapa pun yang menjadi subyek dari fenomena realitas sosial. Kemudian, secara kelompok mereka mencoba mengalami apa yang dilakukan oleh para pelaku tersebut dengan membantu apa yang sedang dikerjakan, misalnya berjualan, turut membuat kerajinan, mengikuti ritme kehidupan pemulung, dan lain sebagainya atau sekedar megikuti hidup bersama dalam komunitas-komunitas yang berbeda dari hidup sehari-hari.

Melalui-upaya-upaya pembelajaran yang tidak hanya terbatas di kelas, pendidikan agama berupaya menghantar dan memproses siswanya semakin mampu mencari makna hidupnya. Lewat interaksi belajar melalui pengalaman, siswa diajak untuk memaknai hidupnya, menggali dari realitas hidup menuju kepada kesadaran eksistensial –tentang makna keberadaan dirinya di tengah kehidupan– dan transenden hidupnya. Pendidikan agama harus mampu mengajak siswanya berdialog mengenai kehidupan, bergulat dengan masalah-masalah hidup, tentang cinta, penderitaan manusia dan orientasi kehidupan sebagai pijakan mendasarnya.

Kecintaan yang tumbuh dari kesadaran akan makna keberadaan dirinya membawa siswa kepada kecintaan akan kehidupan. Selanjutnya membawa siswa kepada kedewasaan rasa dan kesadaran budi yang sungguh mendalam. Pendidikan agama haruslah meniti secara serius bahwa tidak sekedar aspek pengetahuan melainkan aspek rasa untuk dicinta-mencintai sebagai sebuah pengalaman belajar. Pendidikan agama memberi ruang dan memberi kesempatan siswa melihat pengalaman hati, pengalaman mengolah perasaan secara mendalam tentang nilai-nilai kehidupan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s