Pendidikan Agama Menanggapi Masalah Lingkungan Hidup: Perspektif Kristen

Posted: 3 September 2010 in Artikel

Pendidikan Agama Menanggapi Masalah Lingkungan Hidup, Perspektif Kristen

oleh: Pdt. Tabita Kartika Christiani, Ph.D.

Pendahuluan

Masalah lingkungan hidup akhir-akhir ini semakin marak dibicarakan, terkait dengan kerusakan (atau bahkan perusakan) alam yang terus menerus terjadi dan ancaman pemanasan global yang menakutkan bagi banyak orang. Selain ilmuwan, kaum agamawan juga diharapkan ikut berpartisipasi dalam mengendalikan proses perusakan alam oleh manusia, agar kelestariannya dapat dijaga. Maka refleksi teologis terhadap alam atau lingkungan hidup menjadi suatu hal yang sangat dibutuhkan saat ini. Sejalan dengan itu, Pendidikan Agama merupakan salah satu cara strategis untuk melaksanakan pembelajaran ekologis yang berdasar pada keyakinan agama. Berikut ini saya mengungkapkan beberapa pokok pemikiran dari sudut agama Kristen. Iman dan Ekologi

Seringkali teologi kurang memperhatikan alam, karena yang dipentingkan adalah aspek vertikal (hubungan manusia dengan Tuhan) dan horizontal (hubungan manusia dengan sesama). Hal ini juga tercermin dalam hukum kasih: kasihilah Tuhan, Allahmu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Maka perhatian terhadap alam menjadi kurang optimal.

Sikap iman kristiani terhadap alam semesta berubah dari waktu ke waktu. Pada masa pramodern, manusia hidup dekat dengan alam. Hal ini tercermin antara lain dalam spiritualitas model Benedictan. Contoh spiritualitas yang dekat dengan alam ditunjukkan oleh Fransiskus Asisi (1181-1226). Namun sesudah abad-abad gelap (dark ages) atau abad pertengahan, berkembanglah sekolah katedral dan universitas yang mengembangkan ilmu pengetahuan; alam dipelajari secara ilmiah. Dengan adanya pembaruan politik dan sosial pada abad 18, manusia makin merasa berkuasa dan dapat menentukan arah hidup dan dunia ini. Ditambah dengan perkembangan yang dibawa ilmuwan, teknologis, dan insinyur pada abad 19, alam semakin dipandang sebagai obyek yang dipelajari dan dimanfaatkan.[1] Sikap memisahkan manusia dari alam, dan menaklukkan serta menguasai alam, merupakan masalah teologis dan spiritual. Maka diperlukan suatu model spiritualitas baru, yaitu spiritualitas yang cinta lingkungan (sensitif terhadap ekologi).

Dasar teologis yang dapat dipakai untuk mengembangkan spiritualitas cinta lingkungan adalah ajaran tentang “pernyataan umum,” yaitu Allah menyatakan diri dan kehendak-Nya melalui alam semesta ciptaan-Nya. Kemudian manusia mesti menyadari siapa dirinya di hadapan Tuhan Sang Pencipta, dan mendengar panggilan-Nya untuk hidup di tengah dunia. Kesadaran akan Sang Pencipta dan ciptaan dapat membawa manusia pada kesadaran bahwa dirinya adalah bagian dari ciptaan, bagian dari alam semesta. Manusia tidak terpisah dari alam semesta. Apa yang terjadi pada alam sangat mempengaruhi manusia pula.

Dasar etika kristiani yang dapat dipakai untuk mengembangkan spiritualitas cinta lingkungan adalah etika tanggung jawab: bagaimana manusia bertanggung jawab atas sikap dan perbuatannya, termasuk terhadap alam. Misalnya, sikap merusak alam apakah dapat dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan dan ciptaan yang lain. Dengan terus menerus ingat akan kewajiban dan tanggung jawab etis, diharapkan umat kristiani semakin bertanggung jawab terhadap alam dalam seluruh kehidupannya.

Secara khusus etika yang semestinya dikembangkan adalah etika kehidupan.[2] Artinya etika yang mengupayakan dan memperjuangkan kemajuan iptek untuk kehidupan manusia dan alam, dan bukan membawa pada kematian dan kerusakan.

Membaca Kitab Suci dari Sudut Ekologi

Kejadian 1 dan 2 berupa kisah penciptaan dunia. Dimulai dari penciptaan terang; cakrawala; laut dan daratan; matahari, bulan dan bintang; ikan dan burung; binatang darat; sampai terakhir manusia – laki-laki dan perempuan. Kejadian 1:28 merupakan Firman Tuhan kepada manusia: “Beranakcuculah dan bertambah banyak; penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang yang merayap di bumi.” Kata “berkuasa” di sini seringkali disalahartikan sebagai kebebasan untuk mengeksploitasi alam. Padahal tidak demikian. Kata yang diterjemahkan ”berkuasa” sebenarnya berkonotasi ”pengusahaan” atau ”pengelolaan” atau seperti gembala yang berkuasa demi kepentingan gembalaannya.[3]

Dari contoh tersebut jelaslah bahwa membaca dan menafsirkan kembali Alkitab merupakan hal yang semestinya dilakukan. Jangan sampai Alkitab dipakai sebagai dasar untuk merusak alam semesta atau lingkungan hidup. Jangan sampai tugas mengusahakan bumi berubah menjadi izin untuk menggunakan alam demi kerakusan manusia. Ayat-ayat lain yang dapat dipakai sebagai dasar adalah tradisi Sabat (istirahat sehari setelah bekerja enam hari) dan tahun yobel (tahun ke 50 merupakan tahun istirahat bagi tanah). Kedua tradisi ini mengingatkan manusia untuk memberikan istirahat kepada tubuhnya dan tubuh alam semesta.

Kisah penciptaan juga mengingatkan kita pada pengharapan akhir zaman, tentang langit yang baru dan bumi yang baru (Wahyu 21). Pengharapan ini tidak menganulir sikap cinta alam, sebab langit dan bumi yang baru itu ada kaitannya dengan langit dan bumi yang ada sekarang. Sikap yang membiarkan perusakan alam dengan dalih ”mempercepat datangnya akhir zaman atau kedatangan Yesus kembali” tentu saja tidak dapat dipertanggungjawabkan secara Alkitabiah.

Pendidikan Agama dan Ekologi

Sebenarnya dalam kurikulum Pendidikan Agama Kristen sudah ada topik-topik lingkungan hidup, baik untuk SD, SMP, maupun SMA. Secara khusus dan panjang lebar topik lingkungan hidup dibahas pada kelas 7 dari Kurikulum 2004:

Kompetensi Dasar Indikator Materi Pokok
4. Siswa mampu menjelaskan pemeliharaan Allah terhadap manusia dan alam lebih kuat dari pada kecenderungan manusia untuk merusaknya * Menjelaskan pentingnya alam dalam kehidupan manusia

* menjelaskan pentingnya keseimbangan ekosistem bagi manusia

* Bersyukur untuk pemeliharaan Allah atas kehidupannya melalui alam dan isinya walaupun manusia melakukan pengrusakan

* Berperan serta dalam pemeliharaan alam sekitarnya dan kehidupan manusia

* Pentingnya alam dalam kehidupan manusia

* Allah menciptakan ekosistem yang seimbang

– contoh/bukti keseimbangan ekosistem yang diciptakan Allah

– Tanggung jawab menjaga keseimbangan ekosistem

Dampak terjadinya ketidakseimbangan ekosistem

* Mensyukuri pemeliharaan Allah atas manusia melalui pemeliharaan, pelestarian, pembaharuan alam

* Program aksi reboisasi; Program aksi ekosistem sederhana, contoh: kolam ikan, ladang, taman sekolah dan lain-lain

Namun pertanyaannya adalah apakah pemahaman itu sebatas pengetahuan kognitif, ataukah sudah terinternalisasi dalam seluruh kehidupan siswa – menjadi sesuatu yang sudah mendarah daging. Kebiasaan memisahkan pengetahuan dari praktek atau kognitisi dari afeksi seringkali menjadi penyebab mengapa orang tahu tapi belum tentu mau melakukannya.

Strategi

Dari kenyataan itu, lalu bagaimana rencana strategis yang dapat dikembangkan?

  1. Mendidik siswa menjadi orang yang takut akan Tuhan: Allah adalah pencipta, manusia adalah ciptaan yang harus tunduk kepada Allah
  2. Mendidik siswa menjadi orang yang mencintai alam karena menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari alam
  3. Mendidik siswa menjadi orang yang kritis, pengontrol dan sensor yang paling ampuh bagi diri sendiri terhadap berbagai kemajuan iptek dan globalisasi yang juga dapat mengancam ekologi
  4. Mendidik siswa agar dapat mengintegrasikan pengetahuan, sikap dan perbuatan – khususnya dalam hal ekologi: mengetahui tentang ekologi; mencintai alam; dan melakukan aksi memelihara alam.

Untuk menunjang hal itu, PAK semestinya “lebih menekankan etika daripada dogmatika.”[4] Artinya PAK tidak hanya mengajarkan konsep hakekat Tuhan, manusia, dosa dsb. tapi bagaimana hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam dsb.  Dengan demikian PAK langsung terkait dengan pengalaman para siswa.  PAK tidak mengasingkan, melainkan mendekatkan, siswa dengan dunia sehari-hari sekarang dan masa depan (dengan belajar dari masa lalu).

Penutup

Pendidikan Agama di sekolah memiliki posisi strategis untuk mengembangkan sikap yang benar menghadapi masalah lingkungan hidup. Jika topik lingkungan hidup kurang dibahas di gereja, sekolah dapat mengembangkannya dengan lebih luas dan dalam. Dengan demikian siswa memiliki dasar iman yang kuat untuk melakukan tindakan memelihara alam.

Referensi

Berry, Thomas. “An Ecologically Sensitive Spirituality.” In Dreyer, Elizabeth and Mark S. Burrows (eds.). Minding the Spirit: The Study of Christian Spirituality. Baltimore: John Hopkins University Press, 2005, p. 241-248.

Deane-Drummond, Celia. Teologi dan Ekologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001.

Ismail, Andar (Ed.). Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998.

Tim Penyusun Buku dan Redaksi BPK Gunung Mulia, Memperlengkapi bagi Pelayanan dan Pertumbuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002.


[1] Berry, Thomas. “An Ecologically Sensitive Spirituality.” In Dreyer, Elizabeth and Mark S. Burrows (eds.). Minding the Spirit: The Study of Christian Spirituality. Baltimore: John Hopkins University Press, 2005, p. 245.

[2] Lebang-Hutabarat, Henriette. “Sebuah Asia yang Sedang Berubah Cepat: Suatu Tantangan bagi Pembinaan Warga Gereja.” Dalam Ismail, Andar. Ajarlah Mereka Melakukan: Kumpulan Karangan Seputar Pendidikan Agama Kristen. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1998, p. 231.

[3] Deane-Drummond, Celia. Teologi dan Ekologi. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2001, p. 19.

[4] Poerwowidagdo, Judo. “Arah Pendidikan Agama Kristen dan Kurikulumnya dalam Memasuki Era Cyber Space Abad XXI.” Dalam Tim Penyusun Buku dan Redaksi BPK Gunung Mulia, Memperlengkapi bagi Pelayanan dan Pertumbuhan. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2002, p. 63.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s